Inovasi, setelah bangkit dari kubur

Pers

logo-inovasi4“Tolong..! Kami mau mati!”

Begitulah kira-kira jerit lirih yang terucap dari bibir hari. Meski terucap lantang dari dalam hati, tapi nyaris tak terdengar. Lidah kami kelu. Tak ada lagi semangat untuk hidup. Karena tak ada yang peduli nasib kami.

Bagaikan di medan peperangan seperti di dalam film ‘Hacksaw Ridge’, tubuh kami terjerembab di tanah berlumpur. Badan kami diberondong peluru dari senapan mesin musuh. Tapi, jantung masih berdetak, meski kian lambat karena kehilangan banyak darah.

Tak ada yang mendengar suara kami. Di mana pimpinan kami yang menjanjikan kemengangan? Di mana pelindung kami yang justru lari tunggang-langgang? Tiada yang peduli nasib kami.

Syukurlah, masih ada sahabat sejati yang rela menemani di kala susah. Bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi nyawa kita.

Serupa seperti pasukan peperangan yang nyawanya di ujung tanduk, Inovasi pun nyaris mati. Ia dan lembaga pers mahasiswa (LPM) di Tanah Air ini nyaris punah dihajar globalisasi. Jiwa idealisme ala mahasiswa ‘tempo doeloe’ yang selama ini mudah diucap, ternyata tak seindah masa kini.

Dahulu, Inovasi boleh bangga bisa menerbitkan edisi majalah. Bahkan dahulu kala, Inovasi tak perlu khawatir biaya ongkos percetakan pasti akan dibayar oleh Rektorat. Tapi, itu kan dulu.

Temans, kita tak boleh terlena oleh keterpurukan. Inilah saatnya kita bangkit dari kekalahan. Sebenarnya, saat ini kita bukan kalah dari musuh. Kita ‘hanya’ kalah dari ego kita, yang hanya mementingkan diri sendiri.

Ya, Inovasi harus bangkit! Kemerdekaan pers mahasiswa harus diperjuangkan. Meski tertatih menjalaninya dan terasa sakit, tapi percayalah, di ujung jalan sana, ada sebuah harapan yang indah. Yakinlah, kita masih punya banyak waktu untuk menyusun kekuatan, hingga menggapai harapan.

Apa harapan Inovasi? Ingatlah akan hal ini. Sebuah harapan yang sejak lama mendarah-daging di dalam jiwa kru Inovasi, baik yang tua, yang muda dan bahkan yang telah meninggalkan kita. Harapan yang juga idealisme kita, ‘Pemantau Citra Kampus’. Karena inilah, dunia telah menunggu tulisan-tulisan kita. (*)

build_links(); ?>