Yuk, mari sebarkan keteladanan BW Lapian

Bernard Wilhem Lapian

inovasiCC| Ketika menjadi pembicara pada ‘Talk Show Apresiasi Kepahlawanan Nasional BW Lapian’ di kampus ASMI-STIMAR Pulomas Jakarta, akhir Juni silam, sejarawan kawakan Professor Anhar Gonggong menyarankan agar keteladanan dan integritas pahlawan nasional asal Sulawesi Utara Bernard Willem Lapian atau yang dikenal sebagai BW Lapian segera disebarluaskan terutama kepada kalangan generasi muda.

“Saya sarankan untuk menyebarluaskan keteladanan dan integritas beliau (BW Lapian –red)”, kata sejarahwan yang lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan itu.

Saran ini mengemuka usai dia memulai dengan pertanyaan “apa perlunya kita mempunyai pahlawan dan apa perlunya kita bersusah payah mencari orang untuk jadi pahlawan nasional” yang langsung dijawabnya dengan “karena kita butuh keteladanan!”.

Menurut Profesor Anhar, pribadi BW Lapian sangat menarik, karena sebagai tokoh bangsa, ia (BW Lapian -red) sekaligus juga tokoh agama (gereja) yang kaya akan integritas dan keteladanan, sehingga menurutnya sangat penting untuk menggencarkan sosialisasi ketokohan beliau.

“Kita kekurangan pemimpin, yang banyak sekarang itu pejabat, yang bergaji Rp. 300 juta per bulan, masih saja mau nambah, padahal rumahnya sudah belasan, isterinya tiga, sudah ndak tahu dia mau tidur di mana dan kapan serta dengan siapa. Akhirnya, hampir setiap hari, kita menyaksikan ada pejabat (birokasi maupun politisi) yang terkena operasi tangkap tangan (OTT)”, ujarnya.

Kenapa itu semua terjadi? Menurut Profesor Anhar lagi, “Karena kita memang kekurangan stok pemimpin yang memiliki keteladanan. Padahal, banyak sosok pahlawan hebat Indonesia seperti Bapak BW Lapian bisa kita dijadikan figur inspiratif untuk menggairahkan terus spirit membangun bangsa tanpa pamrih, berkorban diri, bukan seperti sekarang, sayang diri dan menyatakan diri lewat berbagai aksi korupsi dan manipulasi”, katanya.

Padahal kalau kita menengok lagi sejarah, kisah-kisah kepahlawanan telah menerangkan bahwa yang dialami para pahlawan itu semuanya bukan dijalani dengan enak, tetapi ada banyak kisah pedih dan penderitaan yang dialami mereka (pahlawan red). “Pahlawan memang banyak yang berkorban harta bahkan harga diri demi republik tercinta dan ini yang tidak ada lagi pada banyak pejabat kita sekarang”, tegas penulis buku Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (1984) itu.

Bahwa Bung Karno, katanya, pernah menyatakan “Hanya bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya dapat menjadi bangsa yang besar”. Karena itu sarannya, penyebarluasan keteladanan dan integritas kepahlawanan seperti tokoh kita (BW Lapian) sangat penting agar (terutama) generasi muda tidak menjadi ‘buta sejarah’.

Menurutnya, situasi ‘buta sejarah’ ini nanti dikhawatirkan akan terus memicu penyebaran virus hedonisme di semua kalangan, terutama membuat para pejabat dan pemimpin kita terlena dengan gaya hidup penuh hura-hura, kendati harus dibayar mahal, dengan uang hasil korupsi, suap serta ‘money laundry’.

Presiden Joko Widodo memberi gelar pahlawan bagi BW Lapian, yang diterima oleh Louisa Magdalena Gandhi Lapian, di Istana Negara, Jakarta, 5 November 2015.
Presiden Joko Widodo memberi gelar pahlawan bagi BW Lapian, yang diterima oleh Louisa Magdalena Gandhi Lapian, di Istana Negara, Jakarta, 5 November 2015.

Sang tokoh

BW Lapian atau Bernard Wilhelm Lapian adalah salah satu dari lima tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi tahun 2016 ini. BW Lapian merupakan tokoh asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang terkenal dengan julukan pahlawan tiga zaman, karena perjuangannya melintasi tiga masa pergerakan yakni masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang hingga zaman kemerdekaan Indonesia.

BW Lapian lahir di Kawangkoan, Minahasa, pada 30 Juni 1892 dan wafat di Jakarta 5 April 1977. Beliau pejuang nasionalis yang aktif di dunia jurnalistik dan pernah menjabat ketua cabang Persatuan Minahasa di Batavia (Jakarta –red). Pria kelahiran Kawangkoan, Sulut pada 30 Juni 1892 itu juga dikenal sebagai salah satu pendiri Gereja Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) dan menerima penghargaan dari Angkatan Laut (AL), Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra dari pemerintah Indonesia.

BW Lapian pernah menjabat sebagai ‘Acting’ Gubernur Sulawesi berkedudukan di Makassar pada tahun 1950, dan sebelumnya terlibat dalam peristiwa Heroik Bendera Merah Putih 14 Februari 1946 untuk merebut tangsi atau barak militer Belanda di Teling, Manado. Dia bersama Letkol Ch Ch Taulu dan Serda SD Wuisan memimpin pasukan pemuda bersama tentara untuk merobek bagian biru dari bendera Belanda hingga berkibarlah bendera Merah Putih.* (Redaksi, dari berbagai sumber)

build_links(); ?>