FAA PPMI: Stop intimidasi terhadap jurnalis!

inovasi|CC Intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi pada Jumat, 2 Desember 2016. Sekelompok masyarakat yang ikut aksi 212 melakukan tindak intimidasi dan kekerasan terhadap sejumlah jurnalis.

“Salah satunya adalah wartawan dari Metro TV yang sedang melakukan peliputan di sekitar Masjid Istiqlal,” kata Agung Sedayu, Koordinator Presidium Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) melalui surel ke redaksi Inovasi, hari ini (4/12/2016).

Pada hari yang sama, kamerawan RCTI juga mengalami tindak intimidasi oleh aparat kepolisian di Depok ketika sedang meliput penangkapan tersangka makar di Markas Brimob.

“Padahal, para jurnalis berkerja untuk memenuhi hak publik terhadap informasi,” kata Agung Sedayu.

Kemerdekaan pers juga dijamin oleh konstitusi dan Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers Pasal 4 ayat 3 ‘untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi’.

Undang-undang itu juga tertulis, menodai kemerdekaan pers, tindakan menghalang-halangi wartawan untuk mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi jelas melawan hukum. Pelaku bisa dikenai sanksi pidana penjara 2 tahun atau denda Rp 500 Juta (Pasal 18 ayat 1).

“Kami memgecam segala bentuk intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis,” kata Agung.

Beberapa hari sebelumnya aksi kekerasan dan intimidasi juga dialami beberapa jurnalis dari Tirto.id pada 30 November 2016 ketika sedang meliput di markas Front Pembela Islam (FPI), di Petamburan, Jakarta Pusat.

Begitu pula pada 4 November lalu, sekelompok orang yang ikut unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, melakukan tindak kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis Kompas TV dan Kompas.com.

Pihaknya juga endesak aparat penegak hukum berkerja profesional, menindak pihak-pihak yang terbukti melakukan tindak kekerasan dan intimidasi tehadap jurnalis.

“Kami minta Dewan Pers melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain sekaligus memastikan perusahaan media mematuhi kode etik jurnalistik,” kata dia. (inovasi)

build_links(); ?>