Senjakala di Manado: Konflik dan Cinta Tiga Generasi

Film: Senjakala Di Manado

‘Senjakala di Manado’, film drama yang menyajikan konflik sosial dalam rumah tangga, dengan gaya khas kehidupan Manado.
Ada tawa, air mata dan cinta.

inovasi|CC Ini dia adalah film drama terbaru di tahun 2016 ini. Dengan disutradarai Deni Pusung dan diproduksi oleh Marapati Production, film ini bercerita tentang seorang pria Johny WW Lengkong (diperankan Ray Sahetapy) yang pergi berlayar, meninggalkan Sang Ibu Oma Marjolien (Rima Melati) yang hidup menjanda.

Setelah pensiun dan sudah sukses, Johny pulang ke Manado. Ia ingin menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan. Tapi ternyata, Sang Istri sudah meninggal dan meninggalkan seorang putri, Pingkan (Mikha Tambayong). Johny bertekat ingin membahagiakan putrinya, tapi sayangnya, ia bersikap terlalu posesif.

Konflik Rumah Tangga
Pingkan merasa terganggu kehadiran Johny di rumah, karena mulai mencampuri urusan asmaranya dengan Brando (Vero Walandouw) kekasihnya. Pingkan belum mengakui Johny sebagai ayahnya, karena penampilan dan perangainya yang asing baginya.

Meski Pingkan belum mengakuinya sebagai, namun Johny tak habis akal. Ia berupaya mendekati Pingkan, sebagai bentuk penyesalan meninggalkan Pingkan sejak kecil. Bahkan, Johny makin ‘kepo’ pada Pingkan, setelah ia melihat ponselnya ada album foto yang dirahasiakan. Johny pun mencurigai Brando sebagai playboy, yang gemar gonta-ganti pacar demi seks.

Johny merasa Brando bukan pria baik-baik, sedangkan Pingkan tidak demikian. Dari situlah konflik antara ayah dan anak mulai terjadi.

Belum selesai kecurigaan Johny atas anaknya, kini ia mempersoalkan hubungan asmara Oma Marjolien dengan duda tua yang kaya Opa Pingkan (Remy Sylado). Johny kesal dengan ibunya yang tetap berselingkuh, meski sudah berusia lanjut.

mdo3

Detail Crew and Cast Film Senjakala di Manado (2016) 

Judul Film : Senjakala di Manado – Jenis Film : Drama, Komedi – Durasi : 96 menit – Sutradara : Deni Pusung – Penulis : Rahabi Mandra, Kevin Anderson – Produser : Ina Limbong Riung – Produksi : Marapati Production – Pemain : Mikha Tambayong, Rima Melati, Ray Sahetapy, Fero Walandouw, Remmy Sylado –Rilis : 1 Desember 2016

mdo2

Dialog ‘Rica-rica’
Di film ini, penonton disuguhkan ‘tradisi’ ala Manado. Mulai dari kebiasaan minum-minuman keras ‘cap tikus’ di pinggir jalan, kehidupan night club, seks bebas, hingga perselingkuhan segala umur. Mungkin selama ini, banyak orang di luar Sulawesi Utara, menganggap warga Manado memiliki budaya glamour dan hidup penuh gengsi.

Di film ini, penulis naskah ingin menembus tembok negatif tentang tradisi Manado. Penonton diajak untuk memahami kehidupan dan ‘perasaan’ warga Manado umumnya. Meski tak ditunjukan tradisi dan aturan agama di Sulut, namun film ini ingin menunjukan tentang kasih sayang antar sesama. Kasih sayang yang nyaris hilang, bukan saja di Sulut, tapi juga kita warga Indonesia.

”Bahwa torang (kita) di Manado ini, tidak menganggap manusia itu menurut status, kedudukan atau jabatan. Tapi fungsinya sebagai orang tua,” kata Opa ke Johny yang sedang galau melihat pergaulan anaknya.

Perselingkuhan dan Seks Bebas
Sikap posesif Johny yang mengkhawatirkan pergaulan anak muda Manado, tampaknya beralasan. Sebagai seorang ayah, ia tak ingin anaknya menjadi korban pergaulan bebas. Apalagi, Johny yang juga mantan playboy itu, akhirnya sadar sikapnya selama ini telah merusak banyak perempuan Manado.

Berdasarkan data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Sulut, angka perceraian terbilang cukup mengkhawatirkan. Sepanjang 2014 misalnya, terjadi sebanyak 1.193 kasus cerai, naik dibanding 2013 yang berjumlah 1041 kasus.

Dari data itu, penyebab perceraian sangat beragam. Ada karena krisis moral, kawin paksa, alasan ekonomi, kawin di bawah umur dan kekejaman mental dan fisik. Tetapi lebih banyak karena orang ketiga, seperti adanya Wanita Idaman Lain (WIL) atau Pria Idaman Lain (PIL).

“WIL dan PIL jadi salah satu penyebab tingginya perceraian di Sulut,” demikian kesimpulan penyebab perceraian di Sulut.

mdo1

Film Lokal yang Membumi
Secara garis besar, film bertema konflik tiga generasi keluarga ini, tak hanya berciri khas Manado. Konflik tiga generasi dalam satu rumah, banyak pula ditemui di suku atau etnis lain.

Bedanya, film Senjakala di Manado ini kental dengan dialeg bahasa manado. Tapi bagi yang tak fasih bahasa manado tak perlu khawatir, karena film ini menyediakan sub-tittle bahasa indonesia. Jadi jangan kaget, ada kata-kata kasar ala pergaulan Manado, yang sebenarnya bisa ditemui di Manado.

”Film ini menghibur kita. Ada kekurangan, karena produksi film yang singkat. Yang penting semua orang terhibur,” aku Rima Melati.

Di film ini, kita disuguhkan suara khas Once Mekel, mantan pentolan Dewa 19, yang dipercaya menyanyikan lagu soundtrack film ini, dengan judul Cakrawala.

”Ini mimpi saya sejak lama. Suatu kebanggan bagi saya bisa bermain film dengan putra daerah yang jadi legenda perfilman di Indonesia. Saya percaya, film ini bisa jadi obat kangen orang Manado di perantauan,” kata Vero Walandouw.

Lokasi syuting film ini, sebagian besar dilakukan di Kota Tomohon, tepatnya di kaki Gunung Lokon, sebuah tempat cantik di Negeri ini, yang banyak dijumpai aneka bunga indah. SMA Lokon St Nikolaus Tomohon juga menjadi lokasi syuting. Di sini, Pingkan menyanyikan lagu ‘Istri Pelaut’, yang konon lagu ciptaan ibunya, Lucy, yang sebelum meninggal dunia. Lagu ini mengingatkan kita sebuah lagu ‘Balada Pelaut’ yang populer di era 1990-an.

Lokasi syuting film ini menjadi daya tarik bagi penonton yang belum pernah atau sudah lama tak berkunjung ke kota Manado dan sekitarnya. Sinematografi film ini kaya dengan nuansa panorama Gunung Lokon, Bukit Doa Tomohon, Jembatan Sukarno dan pantai boulevard. Apalagi dengan dipadu tata suara apik, film ini cukup menghibur dan layak ditonton segala usia. (inovasi)

build_links(); ?>