Ratusan burung langka dilepasliarkan

Kakatua Putih

Burung-burung ini tidak hanya diperdagangkan di pasar domestik saja, namun juga ke mancanegara. Jalur utama perdagangan ke Filipina melalui pelabuhan laut di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

 

Nuri Bayan

inovasi|CC Seksi Konservasi Wilayah I Ternate BKSDA Maluku dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) melepasliarkan 117 ekor burung paruh bengkok di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Burung yang dilepasliarkan tersebut terdiri dari 40 ekor Burung Kakatua putih (Cacatua alba), 28 ekor Nuri bayan (Eclectus roratus) dan 49 ekor Burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus).

“Satwa-satwa ini diperoleh dari operasi penegakan hukum untuk mengurangi perburuan, penyelundupan, dan pemeliharaan illegal satwa liar,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Ternate, Lilian Komaling, hari ini (15/12/2016).

Menurut Lilian Komaling, kegiatan pelepasliaran burung-burung ini ke alam merupakan upaya kami agar ekosistem tetap terjaga dengan baik serta mengembalikan dan meningkatkan populasi ketiga spesies burung tersebut. Pelepasliaran burung dilakukan di Halmahera Selatan karena kawasan ini merupakan habitat alami Burung Nuri bayan, Kakatua putih dan Kasturi Ternate.

Burung Nuri bayan, kata dia, telah dilindungi oleh UU Nomor 5 tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan masuk dalam daftar Lampiran Jenis Tumbuhan dan Satwa dilindungi pada Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.

Sementara itu Kapolres Ternate, AKBP Kamal Bahtiar menyatakan, pihaknya membantu melakukan penegakan terhadap pelaku yang terlibat pada penyelundupan burung sehingga terjaga ekosistemnya. Pihak Kepolisian juga akan menindaklanjuti setiap kasus sampai dengan penyerahan berkas ke Kejaksaan, dalam menindak para pelaku yang melanggara aturan lingkungan hidup dan ekosistemnya.

Ketiga jenis burung tersebut merupakan burung endemik Indonesia dan memiliki sebaran di Indonesia bagian timur seperti pulau Morotai, Halmahera, Bacan dan Obi serta Ternate dan Tidore.

Menurut Daftar Merah IUCN 2016, Kakatua putih sudah masuk dalam kategori terancam (endangered), sedangkan Burung Kasturi Ternate termasuk dalam kategori rentan (vulnerable) dan burung nuri bayan masih dalam kategori resiko rendah (least concern).

Namun perburuan dan perdagangan yang tidak terkendali dapat menyebabkan berkurangnya populasi burung-burung tersebut di alam.

Burung-burung tersebut tidak hanya diperdagangkan di pasar domestik saja, namun juga ke mancanegara. Jalur utama yang diketahui adalah menuju ke Filipina melalui pelabuhan laut di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Meskipun ketiga spesies tersebut masuk dalam daftar CITES Appendix II, yang artinya dapat diperdagangkan secara legal di pasar internasional, tetapi diharuskan melalui pengaturan yang ketat.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan kuota nol terhadap ekspor burung dari alam ke luar negeri, yang artinya aktivitas pengiriman burung dari tangkapan liar keluar negeri adalah ilegal. (inovasi)

 

build_links(); ?>