Asyik, kuliah sambil kerja di Sydney

 

Kuliah di luar negeri adalah mimpi siapa pun. Apalagi, jika kuliah sambil bekerja di negeri impian. Siapa berminat?

 

inovasi|CC Tak ada perbedaan mencolok di kehidupan warga Sydney dan kota-kota besar di belahan dunia lain, termasuk Jakarta. Yang jelas, setiap pendatang yang baru pertama kali menetap di kota besar harus punya prinsip disiplin, siap mental dan mandiri.

Pun demikian dengan Sydney. Cuma bedanya di sini, ada segudang pengalaman berharga yang bisa jadi bekal hidup di masa datang.

Sudah terbukti, banyak mahasiswa Indonesia yang ada di Sydney, bisa bertahan hidup dengan pekerjaannya. Mereka menyukai studi di sini, lantaran bisa sambil bekerja dan berkarya, tanpa mengganggu kuliah hingga usai wisuda. Apalagi ada upah yang menggiurkan.

Daya tarik Sydney
Sydney adalah kota terbesar di Australia, dan ibu kota negara bagian New South Wales. ‘The harbour city’ ini memiliki populasi wilayah metropolitan 4.34 juta jiwa dan luas 12.000 kilometer persegi.

Sydney merupakan salah satu kota paling multikultural di dunia, yang tercermin dari perannya sebagai kota tujuan utama bagi imigran untuk mendapat status sosial Sydneysiders.

Menurut data Departmenet of Education and Training Australia (2015), lebih dari setengah juta pelajar asing menjadikan Australia sebagai tempat tujuan belajar, termasuk di antaranya pelajar dari Indonesia. Sydney adalah kota kedua terbesar populasi pelajar setelah Melbourne. Mirip seperti Yogyakarta, yang 20% penduduknya adalah mahasiswa.

Karakter pelajar di Australia, tentu sangat berdeda di badingkan dengan di Indonesia. Pasalnya, jadual belajar di kampus lebih singkat, sehingga banyak waktu dan peluang untuk bekerja sambilan.

Kuliah dan bekerja selalu menjadi trend di antara pelajar asing di Sydney termasuk para mahasiswa dari Indonesia.

Bekerja sambilan di Australia tak kenal jenjang status ekonomi. Kelompok pelajar anak orang kaya, atau mahasiswa yang mendapat beasiswa full pun, memburu lowongan pekerjaan.

Tapi fakta menunjukan, alasan mereka bekerja di waktu luang kuliah, bukan semata-mata mendapat uang. Dengan bekerja sambilan, mereka percaya akan tumbuh menjadi individu yang mandiri, kelak. Dengan begitu, mereka ‘tak lagi terlalu berharap’ menunggu tanggal pencairan beasiswa atau kiriman uang saku dari orang tua.

Benarkah kerja sambilan bisa menciptakan sikap mandiri dan disiplin?

Mendulang Aus$
Banyak kota di Australia menawarkan pekerjaan sambilan. menjadi lebih mudah untuk para mahasiswa mendapatkan pekerjaan. Misalnya di cofee shop, restoran, supermarket dan bahkan kantor swasta dan pemerintah.

Banyak calon mahasiswa di Indonesia yang belum tahu, bahwa pengaturan jam belajar-mengajar di Australia sangat berbeda dengan sistem kurikulum yang berlaku di Tanah Air. Di Sydney misalnya, jam kuliah ‘cuma’ berkisar sembilan jam setiap minggunya. Bahkan, sering jadual kuliah hanya dua hari dalam seminggu.

Santai kan? Tapi ini bagian seriusnya.

Meski terkesan santai, para mahasiwa juga diwajibkan membaca materi perkuliahan. Beruntung, di sini materi kuliah disediakan secara online. Jadi, masih ada waktu luang untuk menyelesaikan tugas kuliah, bersosialisasi bahkan untuk bekerja part-time.

Berdasarkan UU Keimigrasian yang mengatur visa pelajar, secara legal hukum setiap pelajar atau mahasiswa boleh bekerja sampai dua puluh jam setiap minggunya. Bahkan mereka juga boleh bekerja dengan waktu tak terbatas pada masa liburan.

Di Australia sistem pengaturan gaji dihitung berdasarkan hitungan jam yg kadang untuk kerja sambilan bisa bervariasi.

Menurut sejumlah mahasiwa asal Indonesia yang sekarang bekerja part-time di Sydney, rata-rata bayaran setiap jamnya berkisar diantara 15-25 dollar. Terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan upah kerja pegawai tetap di Indonesia.

Tetapi jika di lihat dari standar hidup di Australia, angka tersebut tidak mencengangkan, karena biaya hidup di Syndey bisa berkali lipat daripada di Indonesia. Misalnya, harga satu porsi makan siang di Indonesia berkisar 20-30ribu, sedangkan di Sydney sekitar 100-130ribu.

Kisah memburu loker
Mencari pekerjaan bagi para pelajar asing di Sydney, tidaklah sulit. Cukup dengan berbekal resume, bisa langsung datang ke toko atau restauran, yang menempelkan kertas pengumuman lowongan pekerjaan.

Bahkan, Steven Chandra salah satu mahasiwa asal Jakarta, misalnya, beberapa kali telah berhasil melamar pekerjaan hanya berdasarkan informasi dari teman-temannya.

Sedangkan untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus atau staf administrasi, biasanya diumumkan secara online.

Beberapa situs seperti Indeed dan SEEK, sering memuat lowongan pekerjaan bagi pelajar asing.

“Aku ambil peluang kerja part time, lantaran punya waktu luang di luar jam kuliah,” kata Steven.

Lain lagi alasan Jennifer Natania, mahasiswi Akuntansi di Charles Sturt University. “Alasan utamaku kerja supaya dapat uang saku tambahan,” ujarnya, pragmatis.

Bagi dara cantik semester 3 ini, kuliah sambil bekerja bukan pengalaman baru. Malahan, Jennifer ‘nekat’ bekerja sejak awal memasuki perkuliahan. Kini dia menjalani dua pekerjaan sekaligus, yakni sebagai kasir dan staf bagian akuntasi di salah satu department store di area Sydney CBD.

Dampak kerja paruh waktu
Bekerja sambilan juga menjadi ajang latihan untuk lebih bertanggung jawab. Yuanita Ngala, mahasiwa tingkat akhir di Australian Catholic University menuturkan, alasan financial menjadi hal penting dalam memutuskan untuk bekerja dan juga melatih untuk bertanggung jawab serta mandiri. Mahasiwa yang satu ini juga memiliki dua pekerjaan sekaligus yang dijalaninya dengan serius.

“Bekerja sambil kuliah disini itu pengalaman yang tak terlupakan dalam arti banyak sisi positif yang didapat,” ungkap Yuanita.

Selain mendapat materi (gaji), tapi juga dapat teman baru dan pengalaman kerja. Mahasiswa asal Tomohon ini menekankan bahwa ada juga sisi negatifnya.

“Kerja sambil kuliah yah capek juga dan kadang tak sepaham dengan rekan kerja. Tapi semuanya menjadi pengalaman berharga dan membuatnya menjadi lebih bijak” tuturnya.

Bekerja juga menjadi ajang untuk bersosialisai. Katherine Horizon mahasiswa jurusan IT di University of Technology Sydney ini, tak ambil pusing kuliah sambil bekerja. “Asal gak mengganggu pelajaran di kampus. Bekerja juga bisa menambah teman pergaulan dan menghilangkan rasa bosan,” katanya barista di McDonald.

Konsisten studi
Tetapi jangan salah, hampir seluruh mahasiswa di sini sepakat, bekerja bukan berarti melalaikan tugas utama yaitu belajar. Itu sangat prinsipil.

“Balance antara waktu yang kita gunakan untuk belajar dan bekerja sangat penting. Saya jujurnya lebih mengutamakan waktu belajar sebab itulah tujuan utama saya kuliah di sini dan hanya menggunakan waktu luang untuk bekerja, tapi walaupun begitu saya tidak juga melalaikan pekerjaan part time saya,” kata Jennifer.

Sebagai warga asing, kata dia, harua tetap bekerja sesuai waktu yang telah ditentukan oleh pemerintah dan tempat kerja. Jadi, untuk bisa menjalani kedua hal tersebut dalam waktu yang bersamaan, yaitu dengan mengetahui secara pasti prioritas mana yang akan dipilih.

“Lakukan keduanya dengan penuh tanggung jawab” sambungnya dengan nada serius.

Para mahasiswa ini, tampaknya sudah patut diteladani anak-anak muda di Tanah Air. Pasalnya, mereka sudah memberi bukti dengan sejumlah prestasi, bukan omongan belaka.

Jenifer misalnya, kini jadi satu-satunya mahasiswa beprestasi di kampus. Ia juga terpilih sebagai anggota Discipline Student Leader, yang bertugas membantu mahasiswa lain dalam assistensi tugas-tugas kuliah.


Well, itulah beragam alasan para mahasiswa memilih untuk bekerja di tengah kesibukan studi. Jadi, jika Anda berkunjung ke Sydney dan kebetulan mampir di salah satu restoran, terlebih yang menyediakan menu khas Asia, kemungkinan akan berjumpa dengan sejumlah mahasiswa yg bekerja, mungkin sebagai barista, pelayan, kasir atau cleaner.

Dan terakhir, kita tentunya berharap, para kader bangsa ini tetap komit untuk belajar hingga menamatkan kuliah. Sebab, itulah alasan utama mereka merantau ke Negeri Seberang meninggalkan Tanah Air, untuk sementara waktu. (vanna tamansa/inovasi)

build_links(); ?>