Merayakan Natal tanpa atribut

Sekelompok masyarakat meributkan atribut natal, tanpa membedah sejarah. Eksistensi toleransi diuji.

inovasi|CC Apakah Natal tidak pernah ada tanpa terompet, pohon terang, topi dan pakaian Sinterklas? Apakah simbol-simbol tadi merujuk langsung pada keimanan seseorang atau keseluruhan umat Kristen?

Pertanyaan-pertanyaan ini kembali mendapat tempatnya, setelah pada 14 Desember 2016, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim.

Dalam fatwa itu, mereka mendefinisikan atribut keagamaan sebagai “sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.”

Sehingga, ketentuan hukum dalam fatwa tersebut memuat dua ketetapan. Pertama, menggunakan atribut keagamaan Non-Muslim adalah haram. Kedua, mengajak dan/atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan Non-Muslim adalah haram.

Tulisan ini tidak dibuat untuk mendebat konsep halal-haram versi MUI. Toh, saya tak terikat dengan konsep tersebut. Fatwa MUI juga bukan peraturan legal-formal di negara Indonesia. Makanya, pemerintah langsung mengambil sikap terhadap beberapa pihak yang merespon fatwa dengan melakukan sweeping.

Bagi saya, menjawab sejumlah pertanyaan yang sudah disinggung di bagian awal terasa lebih penting. Sebab, presepsi mengenai natal dan atribut keagamaan bisa juga datang dari – dan memberi dampak bagi – umat Kristen.

Sejumlah orang, termasuk dari umat Kristen, masih mengaitkan antara natal dengan terompet, pohon terang, topi dan pakaian Sinterklas. Simbol-simbol tadi, memang mendominasi suasana berbagai kota menjelang perayaan Natal. Tapi bukan berarti, suasana simbolik itu, menjadi sesuatu yang lekat dengan kekristenan itu sendiri.

Dalam konteks natal, atribut maupun simbol yang banyak ditampilkan sebenarnya terhempas jauh dari apa yang dikategorikan dengan “keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi agama”.

Soalnya, di Hari Natal maupun hari-hari lainnya, umat Kristen nyaris tidak menautkan keyakinannya pada, misalnya, Sinterklas. Begitu pula dengan pohon natal yang sama sekali tidak termasuk sebagai ritual keagamaan. Umat Kirsten akan tetap percaya kelahiran Yesus meski tanpa pohon plastik yang dihiasi lampu dan pernak-pernik itu.

Pdt Prof Jan S Aritonang PhD, ketika menanggapi fatwa MUI, menuliskan penjelasannya dengan sangat apik. Menurut dia, sampai sekarang, gereja Kristen belum pernah membuat konsensus tentang atribut-atribut, simbol-simbol atau hiasan-hiasan itu. Bahkan ada juga gereja yang tidak merayakan natal dan tidak menggunakan simbol salib.

“Atribut-atribut, simbol-simbol atau hiasan-hiasan itu muncul dari tradisi sebagian gereja, terutama yang di barat (Eropa dan Amerika) yang kemudian disebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia,” demikian dituliskan Guru Besar Sekolah Tinggi Teologi Jakarta ini.

Di abad modern, kehadiran atribut semisal topi dan pakaian Sinterklas, terompet ataupun pohon terang, erat kaitannya dengan tuntutan ekonomi, dari pegiat bisnis skala kecil hingga industri di level global.

Mereka melihat natal, juga hari raya agama lain, sebagai momentum untuk mengeruk rupiah. Macam-macam caranya. Ada yang menjual atribut-atribut. Ada juga yang menggunakan atribut-atribut supaya dagangan ayam gorengnya laku.

Malahan, Aziz Anwar Fachrudin dalam artikel berjudul “Fatwa MUI, Atribut Natal dan Soal Kerukunan” menyatakan, sangat sedikit hubungan antara agama Kristen dengan sejarah ikonisasi Sinterklas.

Menurut dia, penggambaran Sinterklas modern merupakan fenomena komodifikasi atas hal yang sakral menjadi salah satu fitur kapitalisme. Fakta bahwa perhatian publik dalam budaya pop jauh lebih banyak terarahkan pada Sinterklas ketimbang kelahiran Yesus, semakin membuktikan hal itu.

“Dengan dasar ini, alih-alih merupakan atribut keagamaan, pakaian Sinterklas sebenarnya adalah atribut kapitalisme. Dalam taraf tertentu, komodifikasi Sinterklas boleh jadi malah menentang nilai keagamaan: kerakusan meraup materi dan bertentangan dengan semangat charity dan altruisme,” demikian dituliskan Aziz Anwar Fachrudin dalam situs crcsugm.com.

Perihal atribut dan simbol-simbol tadi bisa menjadi semacam tradisi, lebih disebabkan kebiasaan masyarakat dalam menyambut natal. Tak harus ada, tapi tidak dilarang diadakan. Sehingga, ia tidak pernah menjadi simbol keagamaan, tetapi sekedar dianggap sebagai pernak-pernik seremonial.

Karena itu, dilihat dari fungsinya, topi Sinterklas tidak berbeda dengan topi ulang tahun. Terompet natal bisa disamakan dengan tiup lilin sebagai tanda “make a wish”. Pohon terang, serupa fungsinya dengan tumpeng di resepsi pernikahan.

Artinya, hanya karena menggunakan topi atau pakaian Sinterklas, tidak serta-merta membuat seseorang menjadi Kristen. Persis, misalnya, pemuda yang menggunakan baju bergambar Sukarno tak bisa cepat-cepat disebut sebagai marhaenis.

Begitu pula, seseorang yang mengucapkan selamat natal, bukan berarti ia menyatakan iman bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi saya, ucapan itu sekedar ungkapan untuk ikut merasakan sukacita. Bukan niatan pindah agama.

Sebab, seturut pengetahuan saya, salah satu cara untuk menjadi pemeluk agama Kristen adalah dengan mengikuti prosedur formal yang sudah diatur gereja dan negara. Hanya dengan mengucapkan selamat natal dan beli topi Sinterklas tak bisa membuat seseorang menjadi pemeluk agama Kristen.

Selain simbol-simbol yang sudah disebut sebelumnya, untuk menyambut natal di abad modern ini, banyak orang membakar kembang api dan petasan. Tapi kita tahu, kembang api dan petasan bukan karya orisinal pemeluk agama Kristen.

Keduanya, sejak lama sudah digunakan oleh penduduk di daratan Cina untuk merayakan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan dan upacara-upacara keagamaan. Petasan dan kembang api memang digunakan untuk menyambut hari besar keagamaan. Tapi, keduanya tidak pernah menjadi bagian dari agama, terutama Kristen, itu sendiri.

Sampai di sini, saya harap, kita bisa memahami bahwa atribut maupun simbol-simbol tadi merupakan produk kebudayaan manusia – apapun agamanya. Ia dinamis dan akan terus berkembang di berbagai tempat dan waktu. Pada sisi lain, ia berbeda dengan kepercayaan umat Kristen: Tuhan tidak berubah.

Maka, mempercayai Tuhan hanya melalui simbol dan atribut, berpotensi mengecilkan-Nya sebagai buah pikir manusia. Ia bisa terpersok menjadi ‘Tuhan’ yang disamakan John Lennon sebagai konsep. Walau bagaimanapun, konsepsi manusia tentang Tuhan tak akan mempengaruhi eksistensi Tuhan itu sendiri.

Akhirnya, bagi saya, merayakan natal tanpa atribut dan simbol-simbol kebudayaan bukan tidak mungkin dilakukan. Sebab, saya percaya pada Tuhan yang melampaui segala akal.

Ya, saya percaya Tuhan, bukan kerajinan tangan manusia.

Selamat Natal!

(themmy doaly/inovasi)