George Aditjondro, rica Manado dan tawa kita

George Aditjondro

George Aditjondro, ilmuwan pertama di Negeri ini yang berhasil mengungkap harta kekayaan keluarga Cendana, termasuk intrik dan jaringan bisnis asal-usul harta tersebut.

George Aditjondro

inovasi|CC  Publikasi dan tulisan George di majalah Tempo, jurnal maupun kertas kerja dia, kemudian diikuti dengan gerakan mahasiswa menggulingkan Soeharto pada tahun 1998. Jadi, George lebih dari layak untuk dikenang oleh para mahasiswa, apalagi lagi para pembela HAM dan demokrasi.

Saya harus berterima kasih kepada Ferry Rangi karena dialah yang memperkenalkan saya pada George Aditjondro. Hubungan kami memang tidak terlalu intens, tetapi mengenal George adalah salah satu pengalaman mengenal orang yang paling membekas bagi saya. Dan ini bukan basa-basi!

Saya bukan menulis kertas pendek ini karena kematiannya 10 Desember lalu, tetapi karena dalam masa-masa hidupnya dia menjadi orang yang penuh warna, semangat dan menginspirasi, berani bahkan sangat berani, analitis dengan magnet intelektual yang kuat, murah hati, humoris, penuh cerita dan lelucon serta penikmat makanan-makanan enak.

Jadi begini kisahnya.
Suatu malam di Jogja tahun 2011, Ferry mengenalkan saya pada Bang George, di rumah yang ia sewa untuk jadi perpustakaan, tempat ia menulis serta perteduhan bagi anak-anak angkatnya yang juga kawan diskusi kami. Apa yang saya dan Bang George bicarakan bukanlah hal-hal teoritis dan analitis, saya lebih senang bicara hal-hal remeh-temeh. George, bagi saya, lebih senang dan terhibur bicara lelucon, dan dengan cara yang kocak. Ini dia lakukan dengan cara sangat menyenenangkan, terus terang dan terbahak-bahak.

Jelas jauh dari kesan dan reputasinya sebagai ilmuwan yang garang dan kritis dalam melontarkan analisa.

Kemudian, karena tahu saya dari Manado, dia begitu bersemangat bercerita tentang makanan-makanan Manado serba daging yang menjadi kesukaannya, serta gurauan soal bau kentut di sebuah tempat di daerah saya yang bernama Lahendong. Juga soal ketika ia menjadi tutor dalam pelatihan menggunakan konsep Analisis Masalah Dampak Lingkungan Kaki Telanjang yang ia singkat Amdal Kijang.

Saya kenal George dan tulisannya setidaknya waktu memutuskan untuk membuat skripsi tentang konflik. Waktu menemukan kertas kerja George mengenai “Orang-orang Jakarta di Balik Trgaedi Maluku” di rumah kedua saya, markas pers mahasiswa Inovasi Unsrat Manado. Saya begitu terpesona setelah selesai membacanya. Dia begitu terus terang dalam menuliskan nama aktor dan tajam menganalisa. Dalam hal ini, dia begitu terbuka.

Dalam tahun-tahun masih rentan dimana tulisan itu dibuat, saya jadi berpikir, wajarlah dia diusir pemerintah dan harus pergi ke Australia. George benar-benar berbahaya. Dia begitu berani, sangat berani bahkan dalam mengemukakan pendapat pada waktu ia dengan begitu gampang bisa saja dicederai oleh pemangku kekuasaan. Tetapi dengan cara beginilah George benar-benar terlihat sangat humanis.

Karena memutuskan untuk mendalami Minahasa, saya juga membaca tulisan George di Majalah Prisma mengenai sosok Sam Ratulangi yang ia beri judul: ‘Kepak Sayap Manguni Yang Rindukan Deburan Ombak Pasifik’. Untuk seorang yang menulis artikel-artikel analitis, George puitis dan seringkali mengawali tulisannya dengan lelucon (misalnya artikel Terlalu Bugis-Sentris, Kurang Perancis), sekalipun tak pernah kehilangan kualitas.

Soal artikel ini, perspektifnya sangat menarik dibandingkan puja-puji pada Sam Ratulangi oleh penulis Indonesia lain. Dia punya data, jadi oom Sam yang kata dia bukan Doktor jadi sesuatu yang masuk akal, ini karena ada penjelasan mengenai pengaruh bias gender. Soal kualitas dan ketajaman, jangan ditanya. Nyatanya kisahnya mengenai korupsi di Indonesia dalam buku ‘Gurita Cikeas’ yang kontroversial itu, dapat dikatakan terbukti kebenarannya dalam realita politik hari-hari ini.

George memang keras kepala dan susah dibujuk, bahkan dengan sesuatu yang bagi para akademisi dianggap prestisius. Saya mendengar bahwa dia pernah ditawari menjadi penerima Award dan Hibah Akademi Professorship Indonesia pertama sekitar tahun 2004-2005 karena keahlian dan reputasinya di bidang Sosiologi Korupsi, tapi dia tolak. Entah karena alasan apa. Padahal ini bisa membuat soal-soal keuangan dan fasilitas menjadi teratasi kalau menerima tawaran ini.

Saya lupa tanggal berapa, tetapi itu jelas tahun 2012. Kami makan-makan dengan George sejak pagi, dan sore harinya kami ada di sebuah rumah makan di daerah Selokan Mataram, dekat penerbit buku Kanisius. Ia tidak berhenti makan sambil bicara lelucon-lelucon nakal yang ia peroleh dari pengalamannya di berbagai daerah, dari hanya tempat yang ia datangi untuk jalan-jalan, juga wilayah-wilayah yang ia kunjungi karena minat intelektual dan advokasinya terhadap persoalan-persoalan konflik.

Ia tertawa renyah sepanjang bersama dengan kami. Sayalah yang kemudian membonceng George untuk pulang ke kediaman yang ia kontrak untuk ditinggali bersama istrinya. Kami dipersilahkan masuk, dan ia mulai menunjukkan “museum” alias pajangan-pajangan etniknya sembari komat-kamit menceritakan kisah-kisah dibaliknya. Ia terlihat begitu bergembira dan terhibur. Saya pun pulang, dan besoknya diperoleh berita George terserang stroke hebat dan harus dirawat di RS Bethesda Yogyakarta. Setelah itu, ia berada dalam kondisi koma setidaknya dalam waktu 2 atau 3 bulan.

George Aditjondro

Selera Humor George di Palu
Saya balik ke Manado, dan setelah waktu-waktunya di Yogyakarta, George kembali ke Palu bersama istri untuk mendapat perawatan dan menjalani terapi penyembuhan lanjutan. Di Palu Sulawesi Tengah, George seperti mendapat udara segar. Dia punya banyak teman baik dan dunia yang benar-benar dia kenal. Setahu saya, di Palu dia menunjukkan kemajuan kesehatan berarti.

Antusiasmenya di Palu benar-banar bangkit lagi. Dalam kondisi stroke dia bahkan tidak kehilangan selera humor dan analisa yang tajam serta tepat sasaran. Ini terlihat karena dia seringkali dipanggil membagi pengalaman atau memberi kuliah kepada kawan-kawan muda di dunia aktivisme atau kampus Universitas Tadulako. Sekaligus tentu, jadi salah satu bagian terapi agar gairah hidupnya bangkit.

Tahun 2016 ini saya sering ke Palu untuk urusan pribadi. Dan Ferry menginisiasi kami agar menjenguk George agar ia terhibur. Sekitar bulan Mei atau Juni, kami mengunjungi George dengan membawa oleh-oleh makanan dan kue-kue khas Manado. Tentu yang cocok dengan kondisi kesehatannya. Adalah ikan Roa, Cakalang Fufu, kue-kue dan bahkan Teh dari Pekalongan –tempat kelahirannya- yang kami bawa. Kami memberi bingkisan itu sambil bicara dengan George di kamarnya. Dia begitu terhibur dan senang.

Dia memakan Klapper Koek (Kue Kering Kelapa) dan Bagea dengan begitu lahap, beserta tatapan gembira serta puas. Senang sekali melihat George dalam kondisi seperti itu. George kemudian membuat kami berjanji untuk datang di akhir pekan dan memasak Ikan Woku Pedas khas Manado. Seolah-olah yang dia pikirkan hanya soal makanan. Tapi, tak apalah. Kami yakin ini baik untuk semangat dan kesehatannya.

Maka, masak-masaklah kami di rumah George. Selain ikan Woku kami juga membuat Kuah Asang. George begitu bahagia dalam suasana makan sore menjelang malam tersebut. Ia terlihat puas, cerewet dan membuat banyak lelucon, mulai dari kisah Ingus yang katanya enak jadi bumbu hingga waktu dia bertanya dengan mimik serius.

“Fer, No, kalian tau nda apa fungsinya ini (sambil menunjuk Pisang Ambon yang ia pegang)?” kata dia.

Kami dengan serius pun mengatakan, bahwa pisang berkhasiat karena mengandung vitamin, bahkan memiliki anti-oksidan bagi tubuh manusia.

Tanpa tak terduga, George memotong penjelasan kami, dengan lantang.

“Bukan!! Ini buat bikin taik!” sergahnya lantang.

Tawanya meledak, dan kami pun tak mampu menahan tawa. Ada-ada saja ini orang, padahal sakit tapi masih sempat menciptakan lelucon nakal.

Terakhir kali saya ke Palu, sekitar sebulan atau dua bulan, sebelum ia wafat. Saya dan Ferry berencana menjenguk George saat Konferensi International tentang Sulawesi, dimana ia juga diundang sebagai salah satu tamu terhormat karena reputasi dan karya-karyanya. Sayangnya, George tak bisa juga mengikuti konferensi tersebut. Ternyata, itulah kali terakhir saya mengunjunginya untuk mendengar cerita tentang makanan dan humor-humor segar darinya. Ini jelas menyedihkan. Sangat menyedihkan.

Bagi orang kebanyakan, terutama para pegiat intelektual dan aktivis, sosok George lebih dikenal sebagai penulis yang kaya dengan analisa yang tajam dan kritis, khususnya bidang Hak Asasi Manusia, intelektual dan advokasi lingkungan. Tak ada yang bisa menolak dan meragukan hal ini.

Tetapi, saya juga ingin mengingat George sebagai sosok yang hangat, humoris, sering nakal dengan cara menyenangkan dan memiliki selera makan yang besar terhadap menu-menu lezat. Saya ingin meningatnya sebagai manusia, yang menyentuh orang, ya kami-kami ini, dengan cara sederhana macam itu. Dengan cara manusiawi semacam itu.

Tulisan pendek ini tercipta di Salatiga, sebuah kota kecil nan-sejuk, nyaman dan indah di antara Semarang dan Solo, Jawa Tengah. Tempat dimana George dan Arief Budiman, yang walaupun dalam reputasinya yang mentereng sebagai lulusan universitas ternama dunia (Cornell dan Harvard), lebih memiilih untuk mengajar di sebuah universitas swasta dan bahkan sangat mungkin jadi tempat George menulis.

Ia adalah sosok penulis artikel yang dirindukan. Tulisannya tentang pemerintah Soeharto dan caranya menulis untuk membuka mata dunia tentang Timor-Timur misalnya, patut diacungi jempol. Saya tak boleh takabur dan sok tahu kenapa mereka memilih tempat ini, tetapi saya menduga, bahwa di tempat-tempat kecil dan baik untuk merenung, selalu ada langkah-langkah besar yang bisa dicapai untuk memperjuangan Hak Asasi Manusia dan kemanusiaan itu sendiri. (Nono S. A. Sumampouw/inovasi)

Mendiang George Aditjondro
build_links(); ?>