“Jangan Pernah Melupakan Aku” di Kota Bogor

Tugu Lady Raffles (Lady Raffles Monument) di Kebun Raya Bogor

Dianugerahi pemandangan alam nan asri dengan pepohonan yang rindang berjuta jenis, udara yang sejuk, lembut dan bersih, tentu menjadikan Bogor sebagai kota yang nyaman untuk tempat tinggal.

Ya Kota Bogor, inilah kota yang dibangun selama lima abad lebih diatas bentang alam bumi Parahyangan yang elok dan subur. Karena itu, ia yang juga dijuluki sebagai ‘kota Hujan, kota Petir, kota Kujang’ tentu menyimpan berlaksa-laksa kenangan cinta kasih abadi bagi siapapun yang pernah mengunjungi atau pun pernah menjadi bagian dari ritmenya.

Bahwa ada banyak catatan, tugu, prasati, peninggalan sejarah, bahkan lambang kehidupan dan cinta kasih bernilai tinggi di kota ini yang sangat sayang untuk tidak diceritakan, termasuk monumen “Jangan Pernah Melupakan Aku” yang (mungkin akan) tertanam abadi disana.

Sudah tentu bagi yang pernah bertamasya di kota Bogor, jelas mengenal salah satu tempat yang menjadi ikonnya : “Istana dan Kebun Raya”. Keduanya selalu jadi destinasi wisata paling favorit, bahkan kebanyakan wisatawan masih ada yang mengira hanya istana dan kebun rayalah tempat wisata utama di kota Bogor, sehingga tak heran, pada setiap akhir pekan atau di hari libur nasional, kebun raya yang melingkari istana Bogor itu selalu ramai di ‘serbu’ wisatawan dari berbagai penjuru di Indonesia dan mancanegara, meski sebenarnya pemerintah kota Bogor melalui situs onlinenya (www.bogor.go.id) mencantumkan banyak tempat wisata seperti hutan Cifor, Situ Gede, Rancamaya Golf, Prasasti Batutulis, Museum PETA, dan lain-lain.

Tentu harus kita akui bahwa sejak jaman kerajaan-kerajaan kuno di nusantara, kota Bogor telah menawan hati para penguasa untuk dijadikan ibukota dan tempat mendirikan istana terbaiknya. Ada banyak tinggalan sejarah yang menyebut daerah ini pernah menjadi ibukota kerajaan-kerajaan Sunda, terutama karena ia begitu strategis dan taktis sebagai benteng alam terbaik untuk pertahanan kerajaan dari gempuran pasukan musuh, juga sebagai daerah pertanian dan tempat membangun lumbung pangan terbaik bagi warganya.

Pun ketika para kolonialis mencengkeram wilayah nusantara, penguasa-penguasa di Batavia (kini Jakarta) itu, menjadikannya sebagai tempat tinggal sementara, tujuan berwisata, lokasi penyembuhan bagi si sakit, bahkan dengan adanya istana dan kebun raya yang cantik menawan tepat di jatungnya, ia pun jadi kota tinggal resmi puluhan gubernur jenderal Hindia Belanda hingga Presiden kita saat ini Bapak Joko Widodo, karenanya ia jadi tempat menyambut tamu-tamu negara dan lokasi diselenggarakannya acara-acara resmi kenegaraan.

Saya juga demikian, sejak menetap di Jakarta, berulang kali mengunjungi kota Bogor, menginap beberapa malam dan sudah pasti rajin mendatangi kebun rayanya yang sarat nilai-nilai historis dan kesohor itu, sembari menjadikan sudut-sudut tertentu di KRB sebagai tempat terbaik untuk memanjakan mata–menghabiskan helai demi helai buku-buku kesukaanku.

Seakan tak pernah bosan dengan kecantikan alaminya Bogor, saya pikir saya terpesona dan telah jatuh cinta pada kota ini. Apalagi tinggalan-tinggalan sejarahnya yang berjuta koleksi, memikat naluri jurnalistikku untuk terus menggalinya lalu (akan) menuliskannya satu-persatu, juga karena ia dan memori-memori kisahnya makin memaksaku untuk lebih dalam lagi merasakan denyut nadi pembangunannya, bahkan mungkin untuk menemukan makna hakiki “kehidupan” atau (mungkin) juga “cinta” di kota yang tahun 2016 kemarin dinominasikan menjadi salah satu dari 45 kota di seluruh dunia sebagai “The Most Loveable City”, dan berniat menjadi “Kota Pusaka/Heritage City, Hijau/Green City dan Cerdas/Smart City”.

Bagi saya, ada banyak perspektif dan kisah historis kota Bogor yang terus memesona hingga merasa perlu menuliskannya, terutama karena saya pun telah terpikat pesona istana dengan kebun raksasanya itu. Iya, karena di tempat itu, saya menemukan monumen-monumen cinta abadi yang sudah selayaklah ia menjadi catatan pengingat bagi kita, dilestarikan juga kepada generasi mendatang.

Pertama, ayo kita ke Kebun Raya Bogor (KRB). Ia tentu jadi monumen cinta abadi para botanis yang mendedikasikan jiwa dan raganya demi pengembangan ilmu pengetahuan biologi terutama botani (ilmu tentang tumbuh-tumbuhan) dan menjadi pusat pengembangan pertanian dan holtikultura di Indonesia.

Ia (KRB) didirikan pada 18 Mei 1817 oleh profesor Caspar Georg Karl Reinwardt, sebagai Direktur Pertanian, Seni, dan Ilmu Pengetahuan untuk Pulau Jawa pada pemerintahan Hindia-Belanda. Reinwardt yang ahli botani, biokimiawan dan pakar sejarah alam asal Jerman itu, bersama timnya, ditugaskan melakukan penelitian berbagai manfaat tumbuhan untuk kesehatan serta pembibitan koleksi tanaman yang bernilai ekonomis dari seluruh tanah jajahan Hindia-Belanda dan juga dari mancanegara.

Seperti Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) misalnya, ia yang asalnya sebagai tanaman di Afrika Barat, sejak 1848 turut dikembangbiakkan di KRB dan kemudian disebarkan ke seluruh Indonesia hingga saat ini.

Namun mulanya, sebagaimana tertulis di prasasti Batutulis, KRB merupakan bagian dari ‘Samida’ (hutan buatan atau taman buatan) sejak jaman Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dari kerajaan Sunda yang konon memerintah di tahun 1474 hingga 1513. Sebagai hutan buatan, ia dimanfaatkan bagi keperluan menjaga kelestarian lingkungan dan tempat memelihara benih benih kayu yang langka, dimana kerajaan Sunda ini juga turut membangun Samida yang sama di perbatasan antara Bogor dan Cianjur yakni Hutan Ciung Wanara.

Tetapi, ketika kerajaan Sunda (Padjadjaran) takluk dari kesultanan Banten, Samida ini barangkali dibiarkan tak terawat sampai Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda waktu itu (1816–1826), membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya lalu meresmikannya menjadi kebun raya.

Van der Capellen, begitu dia disapa, juga membentuk Departemen Pertanian, Seni, dan Ilmu Pengetahuan untuk Pulau Jawa, termasuk menugaskan Profesor Reinwardt sebagai direkturnya yang pertama dan meresmikan pemanfaatan KRB dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg.

Memang, sebelum van der Capellen dan Reinwardt menetapkan KRB, Thomas Stamford Bingley Raffles–Letnan Gubernur Inggris di Hindia-Belanda (1811–1816) yang pernah mendiami istana Bogor dan memiliki minat besar dalam pengembangan ilmu botani, sebenarnya telah merintis pendirian KRB itu.

Di halaman istana Bogor dia membuat kebun yang jelita dan konon demi kesembuhan isterinya yang sakit saat itu. ‘Disulapnyalah’ halaman istana itu menjadi taman bergaya Inggris klasik, hingga kita disaat ini tak pernah menyangka bahwa dari ‘sulapan’-nya pada dua abad yang telah silam itu, KRB kini telah mencuri perhatian wisatawan mancanegara bahkan pemimpin negara-negara sahabat untuk berduyun-duyun mengunjungi kota Bogor.

Kedua, ayo kita ke Istana Bogor. Sebelum bergaya arsitektur Eropa abad ke-19 pada renovasi tahun 1850, ia dibangun oleh Gustaaf Willem baron van Imhoff, Gubernur Jenderal penguasa Hindia-Belanda pada 1745 hingga 1750 dengan mencontoh arsitektur Blehheim Palace (kediaman Duke Malborough di Oxford Inggris). Fungsinya sebagai rumah peristirahatan dan kemudian berturut-turut menjadi kediaman resmi para Gubernur Jenderal sejak 1870 serta diberi nama Belanda “Buitenzorg” atau diluar kekhawatiran, atau artinya mungkin “bebas masalah atau kesulitan”.

Kini, ia merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia dengan keunikan tersendiri tersebab nilai historisnya, persilangan kebudayaan, ragam koleksi seninya dan flora-fauna yang ada disekitarnya seperti keberadaan rusa-rusa yang didatangkan tahun 1808 langsung dari Nepal, negara kecil yang terletak di atap dunia “pegunungan Himalaya”.

Ia pun jadi saksi bahwa dinamika politik pemerintahan dan keamanan di seluruh negeri Indonesia dapat dikendalikan dari sebuah ruangan kerja kecil di gedung yang pada 11 Maret 1966, Presiden kita saat itu Bung Karno, disaksikan tiga perwira tinggi TNI Angkatan Darat (Brigjen M Yusuf, Brigjen Amir Machmud, dan Brigjen Basuki Rahmat) menandatangani sebuah surat yang kontroversial sebagai Surat Perintah Sebelas Maret “Supersemar” yang menandai berkuasanya rezim Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto.

Ketiga, ayo kita masuki KRB yang mengoleksi sekira 15 ribu spesies tanaman untuk menemukan tugu “Jangan Pernah Melupakan Aku”. Melalui pintu nomor tiga di sisi timur, disitu kita akan menemukan jalan Astrid. Ia menjadi jalan kenangan dan kini monumen sejarah pertalian diplomasi antara Indonesia dan kerajaan Belgia dari benua Eropa.

Jalan ini rupanya dinamai “Astrid” karena sejatinya untuk mengenang kunjungan Ratu Belgia, Putri Astrid atau “Astrid of Sweden” di tahun 1928. Maka tak heran, sepanjang jalan ini pun ditanami bunga Ganyong atau Tasbih atau Flower Bed (tanaman Canna Lily) nan menawan mata karena memiliki kelopak berwarna hitam, kuning dan merah, seperti warna bendera Belgia.

Waktu itu tahun 1928, Indonesia tentu masih dikuasai Belanda, dan kota Bogor masih bernama Buitenzorg, sangat terkenal dengan kebun raya dan istananya karena menjadi ‘buah bibir’ para botanis, herbalis dan ahli biologi di seluruh kampus-kampus di Eropa.

Ketenaran KRB pun di dengar oleh Putri Astrid, maka Ratu Belgia bersama suaminya, Raja Leopold III itu, setelah menikah pada 4 November 1926, memilih berbulan madu ke Hindia-Belanda dan singgah pula di KRB. Tentu dari kunjungannya, Bogor dan KRBnya langsung memiliki hubungan spesial dengan kerajaan Belgia.

Selanjutnya, sembari menuju ke arah pintu utama KRB untuk menemukan monumen cinta nan romantis: “Jangan Pernah Melupakan Aku”, disitu kita tidak hanya disuguhkan dengan pemandangan pohon-pohon yang besar dan tua, taman-taman bunga yang cantik, kolam-kolam air, danau-danau, juga terdapat empat makam keramat yang oleh masyarakat setempat dinamai Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi, Mbah Jepra, Mbah Baul dan Solendang Galuh Pakuan.

Tentang “Jangan Pernah Melupakan Aku”

Adalah Thomas Stamford Bingley Raffles, seperti disebutkan diatas, sebagai Letnan Gubernur kerajaan Inggris di Hindia-Belanda, menjadikan istana Bogor sebagai tempat kediaman resminya bersama belahan jiwanya Olivia Mariamne, lengkapnya Olivia Mariamne Devenish.

Raffles dan isterinya Olivia, tentu memiliki banyak kenangan yang manis di kota Bogor, di istana dan KRBnya, dimana Raffles juga sering membawa Olivia berjalan-jalan menikmati rindangnya pepohonan yang teduh dan sejuknya belaian angin di sekitar istana. Sehingga untuk mengenang Olivia yang wafat karena sakit malaria pada 26 November 1814, Raffles mendirikan sebuah bangunan unik demi menyimpan sepengal kisah cinta keduanya.

Tak sulit bagi pengunjung untuk menemukan bangunan unik yang disebut “Tugu Lady Raffles” atau Lady Raffles Monument itu, karena ia termasuk salah satu spot paling menarik dan memikat perhatian wisatawan di KRB dan para peminat cerita-cerita romantisme orang-orang di Hindia-Belanda, sebab di tugu itu, sang peguasa Jawa itu memahat kalimat-kalimat yang sangat puitis untuk mengenang kekasihnya.

Kisahnya bermula ketika kerajaan Inggris mengambil alih tanah-tanah jajahan Belanda di tahun 1811. Maka Raffles yang karirnya sangat cemerlang di pemerintahan kolonial Inggris saat itu, ditunjuk sebagai Letnan Gubernur di Jawa. Olivia yang menjadi isteri Raffles di tahun 1805 pun meninggalkan Eropa mendampingi suaminya, dimana Raffles kemudian dikenal sebagai Gubernur Jenderal yang paling sukses dengan karya-karya monumentalnya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “di balik kesuksesan seorang pria, terdapat wanita hebat di belakangnya”. Maka makna pepatah ini pun begitu tepat disematkan kepada Olivia yang menjadi gambaran sosok isteri dengan penuh keteguhan, kesabaran, ketegasan, pengorbanannya, mau mendampingi suaminya meskipun harus mempertaruhkan jasmaninya terinfeksi Malaria yang lalu merenggut nyawanya.

Kala itu, Malaria jadi salah satu dari beberapa wabah khas wilayah tropis yang paling ditakuti orang-orang Eropa. Tetapi dari kematian Olivia, kita dapat belajar bahwa ganjaran atas kebaikannya sebagai isteri yang sangat mendukung tugas-tugas suami, tentu mendorong semangat Raffles untuk terus maju mencapai kesuksesan demi kesuksesan.

Selain sukses memimpin Hindia-Belanda, Raffles juga dikenal sebagai tokoh yang menentang perbudakan, menjadi pendiri Kebun Binatang London, menggagas cikal bakal KRB, mendirikan negara kota Singapura, menemukan bunga bangkai raksasa Rafflesia Arnoldi, menemukan kembali candi Borobudur yang tersembunyi di hutan belantara Jawa selama lima ratus tahun, dan karena kecintaannya pada tanah Jawa, termasuk alam dan budaya Jawa, dia mendokumentasikan catatan-catatan penting dalam sebuah mahakarya ilmiah berjudul: “The History of Java”.

Di tanah Jawa yang konon dicintainya pula, dia memiliki banyak kenangan indah bersama Olivia yang begitu dikasihinya. Bahkan saking cintanya kepada Jawa, konon Raffles menangis ketika harus berpindah tugas ke tempat lain.

Bahwa selama menjadi First Ladynya Raffles, peran Olivia pun begitu besar, tidak hanya sebagai isteri, dia juga sebagai partner sehati bagi Raffles yang dikenal sangat dekat dengan penduduk dan penguasa lokal di setiap wilayah yang dipimpinnya. Olivia pula yang merombak tradisi kaku orang-orang Eropa terutama kaum perempuannya yang kala itu membatasi diri dari pergaulan dengan orang pribumi dan etnis lainnya, bahkan dia sering bepergian mengunjungi desa-desa.

Kesibukannya yang sering ‘blusukan’ ke berbagai pelosok, menyebabkan dia terjangkit Malaria. Demi kesembuhan Olivia, Rafles pun memboyongnya ke Bogor dan tinggal di istana Bogor. Karena itu, Raffles merenovasi istana Bogor secantik mungkin, termasuk membuat taman dan kebun di halaman belakang istana Bogor yang lalu diteruskan pendiriannya oleh Reinwardt sebagai KRB.

Malang bagi Olivia, dia akhirnya berpulang dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi Raffles. Jasadnya dibawa ke Batavia dan dikuburkan di pemakaman yang kini dikenal sebagai Museum Taman Prasasti di dekat kantor Walikota Jakarta Pusat.

Raffles kemudian membagun sebuah Tugu (Monumen) di dalam KRB sebagai bukti cintanya untuk sang istri. Di monumen “Tugu Ladynya” itu dia memahat kata-kata puitis dalam bahasa Inggris klasik dan ternyata sebagai tulisan Olivia sendiri yaitu : Oh thou whom neer my constant heart; One moment hath forgot; Tho fate severe hath bid us part; Yet still–forget me not. Terjemahannya kira-kira begini : “Kamu yang selalu berada di hatiku; Tak pernah sedikitpun kulupakan; Walaupun takdir memisahkan kita; Jangan Pernah Melupakan Aku. (inovasi)

build_links(); ?>