Ternyata Ada ‘Kampung Inggris’ di Indonesia

Sulawesi Expo2012, salah satu kegiatan pelajar Sulawesi di Kampung Inggris Pare (Foto: Istimewa)

Bernarkah ada ‘Kampung Inggris’ di Indonesia? Dimanakah ‘Kampung Inggris’ itu berada, lalu mengapa pula ia disebut Kampung Inggris? Nah, agar Anda tidak penasaran silahkan membaca sampai habis tulisan saya ini.

Tentu bagi yang pernah mengunjungi provinsi Jawa Timur pasti mengenal kota Pare di kabupaten Kediri. Ya Pare, kota yang satu dekade ini sering dibicarakan para peminat bahasa asing se Indonesia, karena di kota kecil di jantung Jawa Timur itu, ia memiliki ratusan tempat kursus berbagai bahasa pergaulan internasional terutama bahasa Inggris.

Meskipun disana ada juga beberapa tempat kursus bahasa Arab, Jerman, Spanyol, Perancis, Belanda, Rusia, Korea, Mandarin, atau bahasa Perancis tersedia, namun karena tempat kursus bahasa Inggris paling banyak ditemui, maka Pare lebih sering diidentikkan dengan “Kampung Inggris”.

Ya, inilah Kampung Inggris dengan suasana pembelajaran bahasa Inggris ala pedesaan yang murah, meria, masal, dan ternyata mungkin di Indonesia hanya disinilah “Kampung Inggris” yang benar-benar ada.

Saya pun pernah menjadi ‘pasien’ salah satu lembaga kursus bahasa Inggris disana, dan tentu ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pare, saya langsung penasaran pada asal usul nama “Pare” itu sendiri.

Berawal dari rasa penasaran saya pada Pare ini, maka selama belajar disana, saya pun mencoba menelusuri sejarah nama Pare, kemudian menyelisik beberapa potensinya lalu menyajikannya tulisan ini untuk teman-teman semua.

Salah satu sudut kota Pare (Foto: IL)

Saat itu di bulan Juli 2012, sebagai pelajar kursus bahasa Inggris di Pare, kali pertama mendengar nama ini, saya langsung menyangka jika nama Pare ini (mungkin) diambil dari jenis sayuran yang sering digunakan untuk obat–sayur, yakni “Pare atau Paria” (momordica charantia, Latin)–yang rasanya pahit namun kaya nutrisi itu.

Tetapi sangkaan saya ternyata salah. Usul punya asal, ternyata nama Pare justru diambil dari kata “Panglerenan” dalam bahasa Jawa.

Berdasar tuturan dari beberapa warga, penggunaan kata “Panglerenan” ini sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan Jawa kuno seperti kerajaan Singasari, Kahuripan, Panjalu, Majapahit, yang kala itu sering terjadi peperangan, perebutan kekuasaan, dan atau pemberontakan.

Di daerah Pare inilah dijaman itu, barangkali sering dijadikan tempat untuk “Panglerenan” atau “tempat beristirahat atau bersembunyi dari kejaran musuh. Disinilah para pembesar kerajaan Jawa tersebut sering bersembunyi dan tentu saja persembunyian mereka tidak pernah diketahui musuh dan akhirnya membawa keberuntungan kepada mereka, selalu selamat dari pengejaran.

Menurut cerita warga itu, pun di jaman kolonial Belanda, ada juga orang-orang pergerakan kemerdekaan yang dikejar-kejar para serdadu kompeni Belanda lalu bersembunyi di Pare, dan kebetulan orang-orang itu terselamatkan tanpa diketahui jejaknya oleh Belanda.

Karena penasaran dengan cerita warga ini, saya pun mencoba menelusur seluruh wilayah kota Pare dengan bersepeda, dan saya kemudian harus mengakui bahwa ternyata memang topografi dan medan di daerah Pare ini sangat cocok dan strategis untuk dijadikan tempat persembunyian dan pertahanan.

Goa Surowono (Foto: IL)

Contohnya, disini ada gua Surowono di desa Canggu, ia berupa lubang bawah tanah yang sepertinya sengaja dibangun sebagai gua pertahanan, gua persembunyian dari kejaran musuh. Lubang bawah tanah ini mengingatkan kita dengan film-film bertema perang Vietnam, seperti film Rambo yang dibintangi aktor laga Sylvester Stallone.

Film yang sering menampilkan suasana peperangan di gua-gua atau terowongan Cu Chi Tunnel-nya milisi Vietkong dan tentara Vietnam Utara, dimana Cu Chi Tunnel yang panjangnya lebih dari 200 kilometer ini jadi rumah, benteng pertahanan dan tempat Vietkong melawan pasukan Amerika Serikat di sepanjang tahun 1957 sampai 1975.

Tentu bagi para peminat sejarah perang dan yang pernah merasakan sensasi masuk kedalam gua Surowono–meskipun kalah panjang dengan terowongan Cu Chi Tunnel–pasti membayangkan pula kalau dimasa lalu, gua yang oleh warga sekitar disebut “Gua Kahuripan” sepanjang lebih kurang 500 meter itu, jelas dibangun untuk tempat pertahanan atau pelarian dari kejaran musuh. Tuturan beberapa warga sekitar pun mengatakan hal yang sama bahwa jejak sejarah itu sengaja di buat pada jaman kerajaan Panjalu-Kediri untuk pertahanan saat perang atau tempat persembunyian raja-raja.

Beberapa pelajar di Pare mencoba memasuki Gua Surowono (Foto: Dok. Pribadi)

Konon katanya, daerah Pare juga sejak dahulu adalah tempat yang paling aman dari bencana alam. Pare menjadi tempat berhentinya bencana alam, yang menurut salah satu warga sampai sekarang (2012) bencana alam jarang pernah terjadi di Pare.

Bahwa, “Setidaknya di Pare belum terjadi bencana alam besar”, ujar Mas Munir salah satu warga Pare.

Ceritanya, “Pada waktu gunung Kelud meletus tahun 1990 dan terjadi banjir lahar dingin, maka semua daerah yang di sekitaran Pare mengalami banjir, tetapi setelah mendekati Pare, banjir tersebut berhenti hingga warga mengatakannya sebagai leren”, jelas Mas Munir.

Pelajar bahasa Inggris di Pare berwisata di puncak Gunung Kelud (Foto: Dok. Pribadi)

Selain sebagai kota yang aman dari bencana alam, membenarkan kota kecil ini sebagai daerah sejuk dan cocok untuk tempat tinggal itu juga sudah pasti. Karena ia berada di ketinggian 125 meter diatas permukaan laut maka ia terbilang nyaman dan pas untuk mendirikan rumah peristirahatan, juga karena disini biaya hidupnya yang tergolong terendah se Indonesia, mengapa, karena disini pula berbagai olahan kuliner atau jajanan yang enak dan higienis dapat kita jumpai dengan mudah serta sudah pasti tergolong murah dan pas di kantong para pelajar.

Selain itu, kota ini juga dikenal sebagai kota damai, plural dan majemuk, meskipun silang budaya antara budaya Jawa dengan beragam suku seperti Cina, Madura, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, Arab, dan sebagainya, sering terjadi disini.

Meskipun terjadi silang budaya, namun tidak pernah sekalipun terjadi benturan budaya disini, karena warga Pare pun telah banyak berasimilasi dengan warga pendatang yang berprofesi sebagai pegawai, pengusaha, pekerja dan pelajar itu.

Tentu terjalinnya asimilasi budaya seiring menguatnya pemahaman demokrasi warga negara serta tumbuhnya kesadaran beradab dan kepedulian sosial atau partisipasi yang tinggi dari masyarakatnya dalam berbagai kegiatan sosial-ekonomi, atau mungkin kita bisa menyebutnya sebagai gairah kewirausahaan. Hal-hal ini barangkali yang telah membentuk karakter masyarakat Pare yang ramah dan dinamis serta selalu menerima perbedaan dan sangat toleran terhadap semua keadaban.

Terutama gairah kewirausahaan, inilah yang menopang kabupaten Kediri pada tahun 2005 menduduki peringkat ketiga dari dua ratusan kabupaten-kota di Indonesia dengan daya tarik investasi yang bagus menurut survei yang dilakukan oleh Komisi Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). Begitupun menurut survei Majalah SWA, pada tahun 2010, kabupaten Kediri beserta kota Kediri dinobatkan sebagai peringkat pertama sebagai Indonesia Most Recommended City for Investment. Hal ini semakin memperkuat pendapat yang mengatakan bahwa kota Pare meskipun sebagai kota kecil tetapi sangat dinamis.

 

Dinamisnya Sebuah Kota Kecil

Meski sebagai kota kecil, tetapi semangat dagang–gairah kewirausahaan–warga kota ini tidak bisa dibilang kecil.

Bisa jadi karena letaknya yang sangat strategis dan tepat berada di antara 25 kilometer dari sebelah timur laut kota Kediri, dan 120 kilometer dari arah barat daya kota Surabaya, menjadikan posisi kota Pare tepat berada di jalur ekonomi Surabaya, Mojokerto, Jombang, Kediri, Nganjuk dan Blitar serta dari Kediri ke kota Malang.

Maka jangan heran kalau Pare ternyata memiliki beberapa pasar tradisional sebagai pusat ekonomi rakyat. Ada pasar Lama, pasar Lombokan (Cabe), pasar Krempyeng dan pasar Baru atau pasar Pamenang. Selain pasar tradisional diatas, ratusan pusat pertokoan yang menjadikannya sebagai pusat keramaian, bisnis, sekarang ini dapat dijumpai di sepanjang jalan di depan bekas Stasiun Pare, Stasiun yang pernah menghubungkan jalur kereta Kediri-Pare-Jombang dengan gerbong “Sepur Trotok”-nya sampai di akhir tahun 1970-an.

Bekas rel kereta api di depan RS HVA Pare (Foto: IL)

Pare pun, selain pernah meraih dua kali piala “Adipura” untuk kota kecil terbersih, setelah Kediri dimekarkan menjadi dua yaitu kota Kediri dan kabupaten Kediri, ia sudah lama diwacanakan menjadi ibukota kabupaten Kediri. Namun sayang, wacana menjadikan Pare sebagai ibukota kabupaten pun kandas setelah DPRD dan pemerintah kabupaten Kediri menempatkan pusat pemerintahan di desa Sukorejo (Katang) di wilayah kecamatan Ngasem, dekat dengan pusat bisnis terpadu Simpang Lima Gumul dengan ikon monumen Simpang Lima Gumul (MSLG) yang mirip menara Arch D’ Triomphe-nya Napoleon di kota Paris, Perancis.

Saat sebagai kandidat kota kabupaten Kediri, Pare sebenarnya telah memiliki berbagai infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memenuhi syarat pengembangan pusat pemerintahan. Disini ada berbagai Hotel, Rumah Sakit HVA Tulungrejo sebagai rumah sakit peninggalan Belanda sejak 1908 (sekarang milik PT. Perkebunan Nusantara X), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kediri, Rumah Sakit Umum Amelia, Rumah Bersalin Kasih Bunda, Rumah Bersalin Nuraini dan masih ada lagi beberapa Puskesmas, Klinik-klinik kesehatan, Pos-pos Bidan dengan fasilitas lengkap. Tak ketinggalan ATM Bank bersama, warnet-game online 24 jam ber-AC, Masjid Besar, dan lain sebagainya.

Fasilitas pendidikan pun tak kalah dengan kota lainnya. Disini beberapa sekolah tergolong sekolah favorit dan terbaik mulai dari tingkat TK sampai dengan SMA dan puluhan sekolah kejuruan (SMK) ada disini. Ada SMP Negeri 2 Pare, SMA Negeri 1 Pare dan SMA Negeri 2 Pare, juga ada Madrasah Aliyah Negeri Krecek, SMK Canda Birawa dan beberapa kampus seperti Akademi Perawat, Akademi Kebidanan, Akademi Komputer dan beberapa kampus.

Jadi jangan heran, walau statusnya sebagai kota kecamatan, Pare memiliki beberapa fasilitas perkotaan, termasuk Anda tidak akan kesulitan menemukan ATM dari beberapa Bank nasional seperti Bank BCA, Mandiri, BNI, BRI, Bank Jatim, Danamon, Bank Artha Pamenang, dan sebagainya.

Fasilitas lainnya adalah lapangan atau stadion olahraga “Canda Bhirawa” sebagai homebase atau markasnya tim sepak bola Persedikab (Persatuan Sepakbola Kediri Kabupaten). Persedikab pernah dua kali berlaga di Divisi Utama dimana Persedikab biasanya menjamu lawan-lawannya di stadion “Canda Bhirawa” yang terletak tak jauh dari Masjid Agung An Nur. Mesjid Agung An Nur kini menjadi “landmark”-nya Pare selain Tugu Garuda, Monumen Mastrip, Patung Pahlawan, Patung Mbah Budho, Alun-alun Tamrin, dan Gedung Sanggar Budaya.

Di sektor Agrokompleks, tanah sebagai daya dukung pertanian, peternakan, perikanan daratnya tergolong sangat subur, mungkin karena dekat dengan gunung Kelud dan tidak pernah mengalami kekeringan. Maka jangan heran disini banyak dikembangkan bibit-bibit pertanian yang pada 1999 pernah menempati predikat urutan pertama kecamatan sebagai lumbung Padi dan Jagung di kabupaten Kediri dan Jawa Timur dengan komoditas andalannya yaitu Jagung, Kacang Hijau, Cabai, Jambu Air, Pisang, Melinjo, Kelapa, Ayam buras, sedangkan komoditas unggulannya yaitu Padi, Ayam Ras, Bawang Merah.

Selain itu kecamatan ini juga penghasil Terong, Tomat, Jambu Mete, Tebu, Kapuk Randu, Kacang Panjang. Untuk Pisang sering diolah jadi Gethuk Pisang sebagai oleh-oleh khas Pare bersama Tahu Kuning.

Salah satu kolam ikan lele milik warga Pare (Foto: IL)

Satu lagi, Pare ternyata dikenal sebagai salah satu sentra peternakan Kerbau, Ayam Petelur, Lebah Madu, pengembangan ikan Lele Lokal (Clarias Batracus, Latin) dan ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus, Latin) utama dan pertama di Jawa Timur bahkan di Indonesia. Disini pula dikembangkan usaha pembenihan ikan, budidaya ikan konsumsi seperti ikan Bawel, ikan Mujair, ikan Mas, juga budidaya ikan hias seperti di desa Canggu, sampai penangkapan ikan (lokasi pemancingan) yang semuanya itu menjanjikan keuntungan cukup besar bagi masyarakatnya.

Karena lahan yang subur itulah, beberapa industri menengah bertaraf internasional pernah didirikan di Pare. Dulu, Belanda pernah membangun beberapa pabri gula seperti pabrik gula “Indocorn” yang juga memproduksi minyak goreng “Tjap Sintanola”.

Sekarang pun ada juga industri rumah tangga yang memproduksi beragam produk seperti pabrik tahu, pabrik keripik, pabrik bata merah, pabrik genteng, dan industri menengah seperti pabrik tripleks (plywood) dan bahkan puluhan pabrik pembuatan senjata berburu hewan liar juga ada disini.

 

Sejarah yang tak Tercatat

Menurut saya, kota kecil Pare ini termasuk kota sejarah pula. Sebagai kota sejarah, Pare ternyata memiliki dua candi yang terletak tidak jauh dari pusat kota, yakni candi Surowono dan candi Tegowangi. Ada juga patung “Mbah Bhudo” yang berada di alun-alun Tamrin (taman ringin budho) sebagai taman kota yang berlokasi di bekas lapangan Persendo.

Di jaman Belanda hingga sekira tahun 1970-an pun, kota Pare pernah dilalui kereta api dari Kediri ke Jombang, meskipun sekarang hanya tersisa relnya saja .

Tentu peninggalan-peninggalan sejarah diatas jelas membuktikan bahwa kota Pare telah ada ratusan tahun lalu, hanya saja, sampai sekarang belum diketahui dengan pasti kapan kota kecil ini berdiri dan siapa pendirinya.

Clifford Gertz dan kutipannya (Foto: istimewa)

Karena hal-hal inilah yang bisa jadi menarik minat seorang Antropolog kenamaan asal Amerika, Clifford Geertz, untuk meneliti dan menulis buku Antropologi (ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau) yang terkenal berjudul “The Religion of Java” (lihat: Kota Pare sebagai “Mojokuto” dalam Masterpiece-nya Clifford Geertz “the Religion of Java”) atau yang diIndonesiakan sebagai “Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa”.

Dalam buku tersebut, Geertz menyamarkan Pare sebagai “Mojokuto”, sehingga dari sinilah nama “Pare” kemudian mendunia. Pare diperbincangkan oleh para pengkaji Etnografi (ilmu tentang pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup tersebar di muka bumi)–terutama pusat kajian budaya Asia di kampus-kampus Eropa dan Amerika.

Mojokuto (Pare) dipilihnya karena mungkin di daerah ini pernah menjadi pusat kekuasaan kerajaan Hindu-Jawa sejak kerajaan Daha (Panjalu) hingga Singosari, dan memiliki hubungan historis dengan kerajaan Majapahit yang berpusat di Mojokerto. Selain itu juga karena Kediri memang merupakan salah satu pusat pendidikan Santri (Pesantren) dan sekaligus tempat berkumpulnya kaum Nasionalis, serta beberapa penghayat aliran kepercayaan-kebatinan seperti Sapta Dharma.

Di Pare ini pula banyak kita temui tempat-tempat yang mengingatkan kita pada para Pahlawan yang sudah membela kemerdekaan negara republik Indonesia ini seperti Taman Makan Pahlawan (TMP) Canda Bhirawa.

Taman Makam Pahlawan Canda Bhirawa (Foto: IL)

TMP Canda Bhirawa inilah bukti sejarah bahwasanya Putra-Putri terbaik dari Pare telah berjasa besar untuk Kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia. Karena itu apabila kita memiliki kerinduan dengan para kesuma bangsa kita, disilahkan mendoakan atau berziarah di TMP yang terletak tidak jauh dari Mesjid Agung An Nur.

Untuk mengenang jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan para kusuma bangsa itu, dibangun pula beberapa tugu pahlawan, seperti tugu pahlawan yang letaknya persis di ujung jalan PB Sudirman, yakni di tengah-tengah pertigaan sebelahnya alun-alun Tamrin Pare. Ada juga monumen TGP (Tentara Genie Peladjar) Brigade XVII di depan gedung tua di jalan TGP, gedung yang dulu pernah menjadi markas TGP dalam perang gerilya mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

Bekas Markas Tentara Pelajar dan Monumennya (Foto: IL)

Ya, kota Pare memang sangat dinamis sebagai sebuah kota kecil, ia “Unik, Khas, dan Membanggakan”, maka tak heran, dari namanya dahulu sebagai Pangrelenan, lalu pernah disamarkan dalam kajian ilmiah menjadi Mojokuto hingga kini dikenal sebagai “Kampung Inggris”, telah menjadikan Pare sebagai salah satu tempat terpenting dalam perjalanan sejarah negara dan bangsa Indonesia.

Bahwa Pare layak dicatat terus dalam sanubari kita, meski ada rentang-rentang sejarah yang ‘mungkin sengaja’ tak dicatat atau lupa, sehingga perlu bagi kita semua untuk menelusuri dan mencatatnya dalam buku sejarah bangsa Indonesia.

 

Kampung Inggris itu di Tulungrejo dan Pelem.

Ketika masih di Jakarta dan mendengar ada Kampung Inggris di Kediri, saya pun pertama kali mendengar nama “kampung Inggris” tentu merasa penasaran.

Iya, nama kampung Inggris ini bagaikan magnet yang telah menarik minat para pelajar dari berbagai daerah di Indonesia untuk bertandang ke Kediri. Bahkan ratusan pemuda-pemudi warga negara tetangga seperti Malaysia, Philipina, Timor Leste, dan dari Libya di benua Afrika pun tidak ketinggalan ikut belajar bahasa Inggris di Pare. Maklum saja, disini varian program ilmu bahasa Inggris mulai dari tingkat dasar sampai profesional mudah di dapat dengan biaya yang sangat terjangkau.

Suasana belajar dalam kelompok diskusi di Pare (Foto: Istimewa)

Dengan nama “kampung Inggris” ini, Pare kini memiliki brand sebagai tempat belajar bahasa Inggris teramai dengan metode belajar yang unik dan tersistem untuk mempercepat penguasaan bahasa Inggris.

Maklum saja, telah terbukti ada banyak lulusan kampung Inggris Pare yang langsung lancar cas-cis-cus selepas berguru disana. Jadinya nama Pare dengan “kampung Inggris”-nya ini tersebar keseluruh penjuru Indonesia, hingga sangat sering media massa baik koran cetak, elektronik (TV) dan portal online terus memberitakan, menulis liputan khusus tentang “kampung Inggris” Pare ini.

Bahwa sebenarnya penamaan “kampung Inggris”, terutama bagi sebagian orang memang dianggap kurang tepat, sebab jangan harap Anda dapat berjumpa dengan “bule-bule” –native speaker dari negeri Ratu Elizabeth-Inggris atau Londo-Amerika disini. Melainkan karena maraknya jumlah lembaga dan peminat kursus bahasa Inggris disini, meskipun tidak semua warga (terutama penduduk asli desa Tulungrejo dan Pelem) mengunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, tetapi, jika kita berkunjung ke warung makan, pemilik akan menjawab dengan bahasa yang digunakan oleh pembeli, misalnya jika kita mengunakan bahasa Indonesia ya-silakan, menggunakan bahasa Inggris-oke-juga dan bahasa Jawa ya­-monggo.

Adalah Bapak Muhammad Kalend Osen. Beliau disebut-sebut sebagai pendiri kampung Inggris Pare dan akrab disapa Mister Kalend. Dia yang juga pendiri lembaga kursus Basic English Course (BEC) tidak sependapat dengan penamaan “kampung Inggris”.

Menurut beliau, penggunaan nama “kampung Inggris” akan memberi kesan seolah-olah semua penduduk disini menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan kesehariannya. Pria kelahiran Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) 20 Februari 1945 ini pun menyarankan sebaiknya di sebut kampung kursusan bahasa Inggris, karena memang disini pilihan kursus bahasa Inggris lebih populer dibanding bahasa Jepang, Korea, Mandarin, Perancis, Spanyol dan Arab.

Nah, untuk menyebut “kampung Inggris”, ternyata tidak semua pelajar pun tahu kalau ternyata secara geografis kampung Inggris itu letaknya hanya ada di dua desa yaitu Tulungrejo dan Pelem. Di desa Pelem terutama di dusun Singgahan (tempat dimana pada 15 Juni 1977 Mister Kalend pertama kali mendirikan BEC), dusun Pelem, dusun Mbetonan, dusun Ngeblek. Sedangkan di desa Tulungrejo sendiri ada di dusun Mulyoasri, dusun Mangunrejo, dusun Puhrejo dan dusun Tegalsari.

Menarik mengetahui asal usul nama Tulungrejo dan Singgahan ini. Kedua tempat ini memiliki arti yang sangat cocok dengan situasi sekarang yang sepertinya sudah diramalkan oleh para tetua pendiri desa ini karena ternyata Tulungrejo itu artinya “penolong yang ramai”. Maksudnya kalau ada seseorang yang sedang tertimpa masalah di Tulungrejo maka akan ada banyak tetangga yang menolongnya.

Belakangan setelah beberapa bulan tinggal di Pare, saya kemudian paham bahwa penduduk di desa Tulungrejo memang sangat ramah dan toleran terhadap siapa saja (terutama pendatang), meski kehidupan mereka sangat sederhana sebagai petani atau pedagang kecil mereka dengan ikhlas akan membantunya jika yang bersangkutan membutuhkan pertolongan. Sedangkan Singgahan mengandung arti “persinggahan” dan konon sejak dahulu desa Singgahan ini selalu jadi tempat singgah, tempat menetap orang-orang yang datang dari berbagai pelosok.

Dan ternyata, dua arti nama desa ini pun berhubungan dengan nama Pare sendiri, “Panglerenan”, yang berarti “tempat beristirahat” atau tempat “berkumpul”, sehingga menjadikan kecamatan Pare ini sebagai tempat yang selalu ramai dengan orang-orang dari berbagai daerah, suku, budaya, agama yang berkunjung ke sini. Apakah untuk sekedar beristirahat dari perjalanan, menginap dalam jangka waktu tertentu dan tentu saja kini untuk belajar bahasa.

Maka jadilah kecamatan Pare ini memang layak dijuluki sebagai pusat belajar bahasa Inggris yang murah, efisien dan efektif di Indonesia, sehingga tak salah lagi keterkenalnya mengabar hingga ke pelosok-pelosok nusantara, bahkan jauh sampai ke Libya, negara di Afrika sana. Tak heran kalau banyak orang yang menyebut “Kampung Inggris Pare” saja.

 

Ustadz-Guru, Santri-Murid dan Karakter Manusia Indonesia

Tak dapat dipungkiri sebagai yang patut dicatat oleh tinta emas sejarah adalah peran KH Ahmad Yazid (almarhum). Beliau adalah tokoh agama di Pare dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Fallah yang telah mendidik Mister Kalend–sosok pendiri lembaga Basic English Course (BEC), pionir kursusan bahasa Inggris di dusun Singgahan, desa Pelem.

Ustadz Yazid, demikian beliau disapa oleh santri-santrinya, yang khatam sembilan bahasa asing, memang menjadi tokoh yang disegani di Jawa Timur terutama para Ulama dan tentu menjadi suri teladan bagi para Santrinya.

Beliau dikenal sebagai sosok yang bersahaja, sederhana dan tulus itu mengajarkan ilmu agama, bahasa Arab dan bahasa Inggris dan telah mendidik Ustadz, Guru, yang kini mengasuh beberapa pondok pesantren dan lembaga kursusan bahasa Inggris seperti Mister Kalend dan Ustadz Ali Mustofa Dimyati (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihlas Averrous), sehingga mereka mampu mempertahankan nilai-nilai kesederhanaan, kesungguhan, suka berkorban, ikhlas dalam mendidik–layaknya sang tokoh.

Ustadz Yazid pula yang mewasiatkan agar para Santri seperti Mister Kalend harus menciptakan biaya kursusan yang terjangkau, dengan tetap mempertahankan kualitas dan menjadikan pendidikan bahasa sebagai salah satu rumah pengetahuan yang dapat membentuk karakter manusia Indonesia sesuai dengan iman dan takwa dan juga melek teknologi.

Bahwa setelah menimba ilmu dari Ustadz Yazid, Mister Kalend kemudian mendirikan BEC pada 15 Juni tahun 1977.

Awalnya, fasilitas belajar BEC masih menumpang di serambi Masjid Darul Fallah, dan di beberapa tempat seperti balai desa, atau menyewa beberapa rumah, kini BEC menempati kompleks gedung yang megah di jalan Anyelir nomor 8, RT/RW: 02/XII.

Murid-murid Mister Kalend pun datang dari berbagai penjuru nusantara, hingga hasil tempaan Mister Kalend ini pun membuka kursus bahasa Inggris yang sama di desa Tulungrejo dan Pelem. Jadinya semakin hari lembaga kursus makin banyak (hingga ratusan lembaga) dan terutama peminatnya kian hari terus bergerombol datang dari berbagai daerah.

Karena kursus bahasa Inggris ini sangat diminati oleh para pelajar terutama biayanya yang terjangkau serta biaya hidup di Pelem dan Tulungrejo yang tergolong murah, maka jadinya dua desa ini ramai dengan lembaga kursus bahasa Inggris—‘terus menjamur’–berkembang menjadi pusat belajar bahasa Inggris hingga di juluki “Kampung Inggris”.

Dengan banyaknya para pelajar datang ke Pelem dan Tulungrejo, akhirnya menarik minat pendatang terutama para pengusaha juga yang melihat peluang usaha untuk mendirikan lembaga kursusan, mendirikan rumah untuk kos-kosan atau berdagang barang-barang keperluan seharihari karena ternyata penduduk asli juga banyak yang menjual tanah dan rumahnya. Maka tak heran, lahan pertanian kini di sulap jadi rumah untuk kos-kosan atau tempat-tempat usaha penunjang kursusan.

Belajar bahasa Inggris sembari melakukan aksi sosial donor darah di PMI Kabupaten Kediri (Foto: Istimewa)

Tentang kos dan asrama yang jadi keunikan dari “Kampung Inggris” ini yakni karena para pelajar harus kos atau mengambil asrama dan makan di sekitar dua desa ini. Mereka melebur menjadi komunitas pelajar yang berbahasa Inggris dimana model seperti ini tak akan di temukan di tempat lain di Indonesia, meski pernah diuji coba didirikan di beberapa daerah seperti Jawa Barat dan Sulawesi, namun gagal.

Memang belajar bahasa Inggris disini terkenal dengan program singkatnya, bahkan dengan pertemanan, karena terkadang kita hanya bisa mengenal teman-teman selama dua minggu (program dua minggu), sebulan (program sebulan), tiga bulan, enam bulan dan setelah itu semuanya sudah pulang ke kota atau desanya masing-masing.

Dengan keunikan seperti ini, praktis kampung Inggris yang sama hampir selalu gagal di terapkan atau dibentuk di tempat lain karena daya dukung lingkungan bagi pengembangan budaya kursusan di daerah lain tentu saja tidak sama dengan yang di Pare.

Menurut Mister Nico, yang alumni pelajar di berbagai lembaga kursus dan tutor di salah satu lembaga di Pare, justru karena lingkungan Pelem dan Tulungrejo lah yang mendukung pengembangan kursus bahasa Inggris karena itu, menurutnya, sangat susah untuk bisa diterapkan di tempat lain.

Lingkungan khas yang seperti inilah yang menciptakan karakter ekonomi yang saling menguntungkan. Disini paling cocok dan semuanya sangat menunjang suasana belajar seperti biaya hidup yang tergolong murah dan penduduknya yang menghargai, artinya toleran terhadap semua pelajar yang datang dari berbagai karakter dan saya pikir ini mungkin tidak bisa diterapkan di tempat lain”, ujar salah satu Manajer HRD sebuah perusahaan besar di Jakarta ini.

Masih menurut Mister Nico, meski lembaga kursusan ada yang menyediakan asrama (dormitory atau camp), namun penduduk juga menyediakan kos-kosan dengan pilihan murah dan bersih. Dengan begitu, tak hanya lembaga kursusan yang berkembang, namun juga perekonomian penduduk, sehingga bagi penduduk asli tak perlu jauh-jauh untuk bekerja dan mendirikan usaha.

Tempat usaha kos-kosan, warung makan, warung kelontong, warung internet, toko buku, penyewaan sepeda, usaha fotokopi, studio foto, counter pulsa dan hand phone, salon, laundry, dan sebagainya, banyak dijumpai di dua desa ini. Bukan cuma itu, tempat kursus komputer, kursus mengemudi, bimbingan belajar sempoa (matematika), lembaga bimbingan belajar (bimbel) untuk siswa SD, SMP dan SMA juga pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship), pelatihan pramuwisata hingga kru kapal pesiar ada disini.

Maka, demikianlah waktu dan sejarah harus mencatat peran dan keteladan setiap guru seperti KH Ahmad Yazid (almarhum) dan Mister Kalend. Bahwa dari mereka kita berharap akan terus lahir KH Ahmad Yazid dan Mister Kalend muda, akan terus lahir para pemikir dan pembaharu yang dapat membangun kampung-kampung kursusan bahasa internasional lainnya, kampung belajar matematika, fisika, biologi dan sebagainya, tentu saja dengan akses biaya yang terjangkau dengan tetap mempertahankan kualitas, sehingga pendidikan bahasa sebagai salah satu rumah pengetahuan kedepannya tetap membentuk karakter manusia Indonesia sesuai dengan iman dan takwa dan juga melek teknologi.

Jadi benarlah kata Begawan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Ki Hadjar Dewantara (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat) bahwa kemajuan bangsa tidak terlepas dari sosok “Guru” yang rela melakukan “pengorbanan”. Bahwa dari “Guru-guru” itulah pondasi dasar untuk membangun bangsa menjadi kuat yang melahirkan, mencipta generasi muda bangsa yang juga sebagai guru dalam pengertian universal bisa “digugu”-(didengar) dan “ditiru”-(diteladani).

Menurut Ki Hadjar Dewantara pula, konsep pendidikan harus digali dari nilai-nilai kultural religius Indonesia yang memadukan unsur kemerdekaan, kebangsaan, kebudayaan, kemandirian, kekeluargaan, keseimbangan dan budi pekerti. Karena itulah, para guru tak boleh memberikan perlakuan berbeda karena sentimen suku, agama, ras dan golongan tertentu dan tentu saja di Pare inilah saya telah mengamati dan menyaksikan sendiri dimana amanat Ki Hajar Dewantara selalu diterapkan.

 

Kota Pare sebagai “Mojokuto” dalam Masterpiece-nya Antropolog Clifford Geertz, “the Religion of Java”

Cover bukunya Clifford Geertz yang di Indonesiakan (Repro: Google)

Anda tentu masih penasaran dengan Pare sebagai “Kampung Inggris” dan yang mendunia karena “Mojokuto” kan?

Iya Pare, selain karena tahu kuning, getuk pisang dan madu lebah juga sawo manila hingga pabrik gula dan senjata berburu, kecamatan yang masuk wilayah kabupaten Kediri ini juga menjadi lokasi kajian Indonesianis asal Amerika Serikat Clifford Geertz (Almarhum), hingga menghasilkan masterpiece-nya “The Religion of Java”.

Bersama isterinya Hildred Storey, juga seorang Antropolog, Geertz meneliti Pare antara Mei 1953 sampai November 1954.

Tentu tak bisa dipungkiri bahwa peran Geertz yang guru besar Antropologi di Universitas Chicago AS menginternasionalkan Pare –meskipun disamarkan menjadi “Mojokuto”—patut diapresiasi.

Bahwa Mojokuto atau Pare, sampai hari ini masih menjadi perbincangan dunia, dia terutama dibahas di pusat kajian Indonesia dan Islam Asia di universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika. Mojokuto menjelaskan secara gamblang tentang kebudayaan Jawa, Islam dan Hindu tergabung dalam satu sistem sosial.

Banyak Antropolog menduga, Geertz mengambil Pare sebagai lokasi risetnya tentang agama Jawa, politik aliran (Abangan, Santri dan Priyayi –Red) karena mewakili watak perkotaan di Jawa–sebagai hollow town–untuk memberikan alternatif terhadap kecenderungan tradisi peneliti Antropologi yang selalu memberi perhatian utama kepada kelompok suku, atau permukiman di sebuah pulau terpencil, komunitas kecil petani atau penggembala, atau suku-suku terasing yang cenderung menghilang. Geertz sendiri pernah mengakui kalau proyek riset yang ia lakukan untuk abangan, santri dan priyayi berlatar Pare berlangsung hingga masa enam tahun.

Siapa sesungguhnya Clifford Geertz ini. Geertz, belajar Antropologi di Departemen Hubungan-hubungan Sosial di Universitas Harvard, departemen yang didirikan oleh Profesor Clyde Kay Maben Kluckhohn (Alm) –mantan Presiden Asosiasi Antropologi Amerika dan ahli teori sosial.

Pada musim semi tahun 1956 di bawah bimbingan Profesor Cora Alice Du Bois (Almarhumah)-penulis buku “the People of Alor: Sebuah Studi Sosial-Psikologis dari India Timur Pulau pada tahun 1944”, Geertz menulis disertasi yang belakangan dibukukan berjudul “The Religion of Java” (diterbitkan di London tahun 1960 oleh the Free Press of Glencoe), yang kemudian diterjemahkan oleh mantan editor majalah Prisma, Aswab Mahasin (Alm), dengan judul “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa” (terbit tahun 1981).

Banyak sekali karya Geertz tentang Indonesia, antara lain Ritual and Social Change: A Javanese example (1957), The Religion of Java (1960), Islam Observed, Religion Development in Marocco and Indonesia (1968), The Javanese Kijaji: The Chainging Role of a Cultural Broker, Comperative Studies in Society and History 1959-1960 (1960), Peddlers and Princes, Social Change and Economic Modernization in Two Indonesian Towns (1963), The Development of Javanese Economy, a Socio-cultural Approach (1956), Religious Belief and economic Behavior in Central Javanese Town: Some Preliminary Consideration, Economic Development and Cultural Change (1956), Modernization in Muslim Society: The Indonesian Case, Religion and Progress in Indonesia (1965), Mojokuto: Dinamika Sosial Sebuah Kota di Jawa (1965), akan tetapi yang menjadi “Masterpiece” adalah “The Religion of Java”, sebuah buku penting tentang Indonesia yang membuat dia mendapatkan tempat yang istimewa di mata para periset etnografi, hingga tak heran jika kemudian dia dijuluki pembaharu (Renaissance Man) dalam mengembangkan penelitian antropologi.

Kerja kerasnya meneliti, mengembangkan kajian antropologi menghantarnya menjadi Antropolog terkemuka pada zamannya.

Geertz menjadi terkenal dan populer karena analisisnya paling tajam dan mendekati kenyataan (bahan-bahan deskripsinya dinilai lengkap dan kohesinya paling logis). Dan, karya-karya diatas sangat menarik perhatian para ahli Antropologi, Sosiologi, ahli-ahli Politik, Sejarah dan Sastra serta orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama Islam dan Indonesia, juga para peminat kajian hubungan antara budaya, agama, dan perilaku politik.

Geertz jugalah yang berjasa mematahkan dominasi Eropa (Nederlandosentrisme –Red), sehingga studi tentang Indonesia–dalam penelitian etnografi–tidak hanya terpusat di Leiden, Belanda, tetapi menjadi pokok kajian yang penting juga dalam dunia akademis di Amerika, karena dahulu, sebelum datang Geertz datang ke Indonesia, seperti layaknya peneliti Antropologi lainnya, Geertz terlebih dahulu harus belajar bahasa Indonesia di Belanda. Maklum saja bahwa di zaman itu, Belanda adalah kiblat kajian tentang Indonesia.

Alhasil, karena sukses dengan “The Religion of Java” itulah menyebabkan diversifikasi kajian Indonesia kemudian terus menyebar ke Amerika, Australia, Jerman, Rusia, Jepang dan tempat-tempat lain di luar Eropa.

Tentu ada yang paling penting untuk kita ketahui tentang Geertz yaitu saat dia meneliti Pare untuk disertasinya itu, ternyata beliau belum genap 28 tahun, dan ternyata dia juga melakukan penguasaan bahasa Jawa, pemanfaatan banyak informan lokal, pembagian tugas dengan tim peneliti lain, pendalaman atas topik-topik tertentu yang membutuhkan kajian lengkap, dan pengumpulan data-data statistik sebagai apa yang kini disebut sebagai kegiatan observasi-partisipatif.

Geertz pun dijuluki penemu ilmu pengetahuan baru: “Antropologi Spekulatif”, dan lebih jauh lagi Geertz dinyatakan sebagai Ikonoklast yang menghancurkan sedemikian banyak patung berhala dalam studi-studi kebudayaan.

Konon waktu memilih meneliti Pare, Geertz melihat kota kecil ini dihuni oleh sebagian besar penduduk yang melek huruf, memiliki tradisi yang tua, urban, dan sama sekali tidak homogen serta sadar dan aktif secara politik.

Mungkin Pare dipilihnya karena kebudayaan Jawa, Islam, Hindu, Budha dan Animisme berkorelasi dalam satu sistem sosial. Termasuk di Pare inilah, Geertz sering berdiskusi dengan KH Ahmad Yazid, seorang ulama modernis dan tokoh organisasi Persatuan Umat Islam (PUI) dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Fallah di jalan Anyelir nomor 54 dusun Singgahan desa Pelem, yang belakangan diketahui sebagai guru dari Mr. Kalend Osen dan Ustadz Ali Mustofa Dimyati. Mr. Kalend Osen sendiri adalah pendiri BEC (Basic English Course) lembaga kursus bahasa Inggris pertama di Pare, sedangkan Ustadz Ali Mustofa Dimyati kini pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihlas Averrous yang berlokasi tak jauh dari candi Surowono.

Jika tak mau penasaran, silahkan baca buku “The Religion of Java” atau yang di Indonesiakan sebagai “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa” oleh almarhum Bung Aswab Mahasin.* (Irwan Lalegit).

build_links(); ?>