Rekrutmen maut, 3 calon mapala tewas

inovasi|CC Polres Karanganyar Jawa Tengah menyelidiki kasus dugaan tindak pidana kekerasan yang menyebabkan tiga mahasiswa UII tewas setelah mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) The Great Camping (TGC). Sebanyak 20 saksi dari pihak peserta diklatsar dan keluarga sudah dimintai keterangan.

Selain memeriksa 20 saksi, polisi sudah mengantongi hasil visum salah satu korban bernama Muhammad Fadli (19). Sedangkan untuk dua korban lainnya, Syaits Asyam (19) dan Ilham Nurpadmy Listia Adi, polisi masih menunggu hasil visum resmi dari rumah sakit.

“Sejauh ini kita sudah melakukan pemeriksaan pada 20 orang saksi, baik dalam kapasitas mereka sebagai peserta dan keluarga yang mendampingi korban sebelum meninggal,” kata Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak, hari ini (26/1/2017).

Pihaknya juga mengaku telah mendapatkan alat bukti, berupa surat keterangan visum et repertum luka dan mayat pada korban.

“Korban bernama (Muhammad) Fadli, yang merupakan korban pertama. Dua korban lain, yaitu Syaits Asyam dan Ilham Nurpadmy Listia Adi, walaupun secara resmi hasil visum dan autopsi belum diterima, tapi kami sudah mendapatkan informasi dari hasil koordinasi dengan pihak rumah sakit,” ujarnya.

Dari infomasi yang didapatkan, Ade mengatakan terdapat beberapa luka di sekujur tubuh ketiga korban, bahkan ditemukan juga trauma di kepala korban. Hal tersebut makin menguatkan kepolisian bahwa benar terjadi tindakan kekerasan.

“Intinya, benar ada dugaan tindakan kekerasan dengan adanya luka-luka di sekujur tubuh, memar, dan trauma di kepala bagian belakang. Serta ada gumpalan darah di paru dan rusuk sebelah kiri ada yang patah. Dugaan tindakan kekerasan pada ketiga korban sementara bisa dibuktikan,” paparnya.

Tiga mahasiswa UII yang tewas tersebut adalah Syaits Asyam (19), Muhammad Fadli (19), dan Ilham Nurfadmi Listia Adi (20). Mereka tewas setelah mengikuti Diklatsar The Grand Camping (TGC).

Tiga mahasiswa UII itu awalnya mengikuti kegiatan TGC di lereng selatan Gunung Lawu di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada 13-20 Januari 2017. Total peserta diksar ada 37 mahasiswa dari berbagai fakultas di UII, yang terdiri dari 34 peserta laki-laki dan 3 perempuan.

Foto calon anggota Mapala UII Yogyakarta menjelang Dikdas di Gunung Lawu

Bantah tradisi kekerasan
Anggota senior Mapala UII 1978, Budi Wibowo, merasa heran dengan pendidikan dasar Mapala UII berujung tewasnya tiga mahasiswa. Sebab, ketika dia masih aktif, kegiatan fisik saat pendidikan dasar tidak dominan.

“Fisik sedikit. Merayap, merangkak, jalan kaki,” kata Budi.

Tiga anggota Mapala UII tewas setelah mengikuti pendidikan dasar dan latihan bertajuk Great Camping di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Baik korban maupun kampus mengakui ada unsur kekerasan senior.

Menurut Budi, di zamannya, pendidikan dasar lebih mengutamakan pengenalan soal alam, soal bagaimana bertahan hidup di alam, juga bagaimana hidup bermasyarakat. Mengenai lokasi, pendidikan dasar pun dilangsungkan dengan melakukan jelajah alam dari Deles, Klaten, ke Kinahrejo, Sleman. Namun, sejak Kinahrejo tertutup lahar pasca-erupsi Gunung Merapi pada 2010, lokasinya pun dipindahkan.

“Setahu saya, baru tiga tahun ini pindah ke Gunung Lawu,” kata Budi.

Anggota senior lain, Sugiyono, menambahkan, standar operasional prosedur bagi calon peserta pendidikan dasar pun sama. Misalnya, ada cek kesehatan lebih dulu. (inovasi)

build_links(); ?>