“Kamu boleh ikut Mapala, Nak”

Nang, saat ibu menulis surat ini kamu baru saja merayakan ulang tahunmu yang ke-2.

Kita semua tertawa bahagia, tiup lilin, potong kue, dan krim coklat berlumuran di wajahmu. Melihatmu yang bertumbuh dengan pesat dan sehat membuat ibu menjadi orang tua yang paling berbahagia.

Tapi tahukah kau, Nang? Hanya berjarak beberapa hari dari kegembiraan kita ada ibu lain yang berduka. Ibu tersebut kehilangan putra semata wayangnya. Putra terkasihnya itu meninggal usai mengikuti pendidikan dasar untuk menjadi anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).

Bayangkan Nang, betapa hancur dan sedihnya hati seorang ibu mengetahui putra satu-satunya, kebanggaannya, tumpuan harapannya meninggal dengan cara yang mengenaskan.

Ibu tak bisa membayangkan jika hal ini terjadi pada ibu. Mungkin ibu akan limbung, hancur, dan hilang harapan. Kehilangan belahan jiwa adalah hal yang tidak akan pernah ibu inginkan.

Berawal dari kejadian tersebut lantas banyak asumsi beredar di lini masa. Seperti bola es yang menggelinding dan terus membesar. Semua mencaci, semua menyalahkan, semua menghujat, semua menghakimi dan sampai pada satu kesimpulan. Mapala itu segerombolan orang yang tak punya kerjaan. Mapala itu nggak guna, hanya kebanyakan gaya. Mapala itu brengsek. Mapala itu pembunuh. Duh, ngilu benar hati ibu mendengar kata itu.

Ibumu ini bukan anggota Mapala Nak. Namun ibu memiliki banyak karib dari golongan mereka. Pekerjaan yang ibu geluti pernah membawa ibu bersinggungan dengan kawan-kawan Mapala. Bahkan bapakmu, bapak yang darahnya mengalir di nadimu pernah menjadi ketua Mapala pada jamannya. Tapi bapakmu dan kawan-kawan ibu bukan orang brengsek dan mereka bukan pembunuh. Yang ibu tau mereka adalah orang-orang yang begitu mencintai kehidupan dan menjalani semuanya dengan sepenuh jiwa.

Dari mereka ibu belajar banyak tentang bagaimana menghargai proses, tentang bagaimana menghargai waktu, tentang bagaimana menghargai alam dan manusia, tentang bagaimana bersikap disiplin, tentang bagaimana menghargai hidup. Karena itu ibu cukup ngilu saat semua memukul rata bahwa mapala itu pasti brengsek.

Gunung Soputan, Sulut.

Nang, dengan meninggalnya 3 peserta The Great Camping MAPALA UNISI ini semua orang lantas mencemooh keberadaan Mapala. Mereka berkomentar sesuka hati tanpa mau melihat dan menunggu hasil investigasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya Mapala salah dan harus dibubarkan. Dan mereka memukul rata semua Mapala. Padahal kan Mapala yang sesungguhnya tidak seperti itu.

Bahkan ibu percaya, MAPALA UNISI pun bukanlah organisasi yang mencetak para penjagal seperti yang mereka bilang. Sebagai salah satu Mapala tua dan senior di Jogja sepak terjang mereka tak perlu diragukan lagi. Mereka kerap hadir di tiap bencana yang ada. Menjadi orang-orang terdepan yang masuk ke daerah berbahaya untuk menyelamatkan kehidupan dan membantu warga. Persoalan kemanusiaan adalah salah satu tugas yang mereka emban.

Dalam melakukan diklat dasar setahu ibu ada SOP yang harus dipatuhi. Bukan asal bentak, bukan asal hukum, bukan asal pukul. Dan pastinya Mapala UNISI memiliki itu semua. Prosedur yang harus mereka patuhi. Jika pada akhirnya terjadi kematian seperti ini pastilah ada kesalahan demi kesalahan yang tak disadari, ada prosedur yang tidak dipatuhi, ada oknum yang tak mampu mengontrol diri dan emosi.

Ibu sendiri mengutuk tiap kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan dengan alasan apapun. Kekerasan fisik yang menyebabkan kematian adalah perbuatan yang biadab. Tak ada pembenaran untuk hal tersebut. Namun ibu juga tak mau lantas menghakimi oknum yang diduga melakukan kekerasan dengan sesuka hati. Mencerca mereka, merisak mereka habis-habisan, dan mengharapkan hal buruk juga terjadi pada mereka bukanlah solusi.

Sebelum ada hasil investigasi yang dikeluarkan secara resmi, ibu yang tak tahu apa-apa soal pendidikan dasar di mapala dan soal kondisi alam yang sebenarnya tak akan menghakimi. Biarlah aparat penegak hukum yang bekerja. Beri mereka waktu. Karena ini hal yang kompleks dan tak semudah membalik telapak tangan.

Ibu berharap semoga apa yang sedang terjadi ini tak lantas menyurutkan langkah kalian para anggota mahasiswa pecinta alam. Justru inilah saat yang tepat untuk introspeksi diri. Melihat lagi apakah yang dikerjakan selama ini benar atau salah. Apakah sistem pendidikan yang dilakukan masih relevan dengan zaman atau tidak. Inilah saat terbaik untuk melongok ke dalam, mengevaluasi, lantas memperbaiki. Tunjukkan pada masyarakat bahwa Mapala tak semenakutkan yang dituduhkan. Buktikan bahwa kalian ada untuk menebar kebaikan dan menciptakan generasi yang unggul. Panjang Umur Pecinta Alam Indonesia!

Nak, sekarang satu-satunya yang bisa ibu lakukan adalah berdoa. Semoga keluarga yang ditinggalkan oleh putra-putra terkasihnya mendapatkan penghiburan dan kekuatan untuk menjalani hidup. Semoga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan kembali selepas putranya pergi.

Dan untuk kamu nak, jika kelak kau besar dan ingin mengikuti diklat dasar untuk menjadi anggota Mapala ibu tak akan pernah melarangmu. Lakukanlah apa yang menjadi pilihanmu. Hanya saja kamu harus mengukur batas kemampuan diri. Kalau mau jadi anggota Mapala yang harus banyak-banyak gerak dan latihan, jangan cuma mengurung diri di kamar sambil mainan gadget. Deal?

Elisabeth Murni P (Alumni LPM Ekspresi Universitas Negeri Yogyakarta/bersatoe.com)

build_links(); ?>