Diancam, LPSK lindungi saksi Mapala UII

Foto calon anggota Mapala UII Yogyakarta menjelang Dikdas di Gunung Lawu

inovasi.cc – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), menemukan potensi ancaman kepada 34 saksi korban kekerasan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Islam Indonesia (UII).

Wakil Ketua LPSK Askari Razak, usai bertandang ke kampus UII dan mendatangi saksi korban di Rumah Sakit Jogja International Hospital (JIH), mengungkapkan bahwa dalam wawancara dengan beberapa saksi korban, ditemukan potensi ancaman.

“Dari empat orang didapatkan fakta adanya potensi ancaman yang dikhawatirkan akan membawa dampak tersendiri. Kami sudah lakukan pembicaraan dan definisikan awal baru satu orang yang mampu mengungkapkan kekhawatiran terhadap ancaman seniornya. Hal ini bisa kita definisikan sebagai potensi ancaman,” katanya.

Dikatakan Askari Razak, untuk memperluas identifikasi ancaman, pihaknya masih harus mencari keterangan dari 34 perserta Diksar dalam dua hari.

“Kami butuh keterangan dari saksi lain untuk menguatkan, paling tidak tiga perempat agar bisa terpenuhi,” lanjutnya.

Menurut Askari, peristiwa tewasnya tiga mahasiswa dalam Diksar Mapala tersebut, bukan perkara sederhana. “Kami terus berikan pengertian, agar tidak menyederhanakan peristiwa ini karena ada tiga korban meninggal dunia, namun semua kembali kepada korban, apakah mau menjadi saksi atau tidak,” tegasnya.

Disebutkan, salah satu saksi korban, menderita truma berlebihan yang ditunjukkan dengan kecemasan bila bertemu orang lain.

Namun, fokus LPSK saat ini, pada ada tidaknya standar operasional penyelenggaraan kegiatan Diksar Mapala UII. Selain itu Askari juga menjelaskan, kehadiran LPSK di Yogyakarta, juga karena surat permohonan dari Rektor UII Harsoyo.

“Keberadaan kami disini dalam rangka mengumpulkan mencari informasi dokumen dan atau fakta lain di lapangan,” kata Askari.

Di tempat berbeda, ketua tim dokter penanganan Mapala UII, dr Khalimur Rouf menjelaskan, satu pasien atas nama Muhammad Hafizal masih harus menjalani perawatan di Bangsal Gardenia Rumah Sakit JIH, karena mengalami trauma sehingga belum diperkenankan melakukan rawat jalan seperti 13 pasien sebelumnya.

Selain mengalami cidera saraf bahu, pasien yang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan keluhan kecemasan.

“Dalam satu dua hari kedepan tim dokter akan terus melakukan observasi menyeluruh untuk memastikan kondisi pasien semakin membaik. Masih ada syaraf di ketiak yang bermasalah hingga harus menjalani program fisioterapis,” terangnya.

Sultan turun tangan
Menanggapi menyelidikan kasus kekerasan yang terjadi di UII, Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa kasus kekerasan di UII tidak bisa dijadikan indikator sistem pendidikan di Yogyakarta.

“Setiap kampus memiliki unit kegiatan Mapala, tetapi kasus kekerasan oleh senior itu baru terjadi sekarang,” ujar Sultan.

Dengan demikian, perilaku senioritas tersebut belum mewakili seluruh kampus di DIY. Meski begitu, Sultan HB X mengapresiasi pihak kampus dan Kepolisian yang bertindak cepat hingga menahan dua terduga pelaku kekerasan.

“Penegakan hukum harus dilakukan kepada siapa saja yang melakukan kekerasan,” ucap Sultan.

Selain itu, Sultan juga meminta, kasus tersebut bisa dijadikan pelajaran untuk semua kampus, harus ada kontrol dari pihak kampus atas semua kegiatan mahasiswa.

“Kekerasan yang terjadi di kampus seperti ini memprihatinkan kita semua. Saya berharap kepada Rektor dan juga mahasiswa di kampus mana pun, jangan sampai terulang lagi. Ini sekali dan terakhir,” tegas Sultan. (inovasi)

build_links(); ?>