Membukukan aktivis Jalan Roda

Banyak yang belum tahu, ada jutaan kisah di balik secangkir kopi Jalan Roda. Dan itu semua, sangat layak dirangkai ke dalam sebuah buku.

Aktivitas pengunjung di warung kopi Jalan Roda (Jarod), kota Manado

inovasi|CC Lega tasanya Muhammad Iqbal, usai merampungkan bukunya yang berjudul “Komunitas Jalan Roda”. Alumnus IAIN Manado ini, sudah sejak kecil mengenal Jalan Roda (Jarod). Namun, niat menulis komunitas Jarod muncul di masa-masa semester awal perkuliahannya. Ketika Iqbal mulai terlibat dalam sejumlah diskusi dengan para aktivis Jarod, baru dimulai.

Dalam buku ‘Komunitas Jalan Roda’, Iqbal merujuk pada teori Jurgen Habermas tentang Ruang Publik; Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis. Ruang publik dipandang sebagai jembatan antara negara dan masyarakat sipil. Ruang ini adalah ruang universal, tempat orang-orang berkumpul untuk mendiskusikan apa saja yang perlu didiskusikan.

Teori ruang publik Jurgen Habermas, kata dia, dapat ditemukan pada Jalan Roda. Di sana, masyarakat berkomunikasi mengenai kegelisahan-kegelisahan sosial dan politis. Ruang publik bersifat bebas, terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi pemerintah atau otonom di dalamnya. Oleh karena itu, ruang publik itu harus mudah diakses semua orang, sebagaimana Jalan Roda (Jarod) yang terbuka untuk umum tanpa ada pembatasan.

Memang, pengunjung Jarod berasal dari berbagai latarbelakang. Sebut saja pedagang, makelar, penjual kopi, penyapu jalan, akademisi, birokrat, ekonom, budayawan, pemuka agama, hingga wartawan. Siapapun yang bertandang ke Jarod bebas menentukan posisi, sesuai isu atau informasi yang ingin diketahui. Maka, ia dipandang sebagai tempat mengelola isu publik.

Dari situ, Iqbal memetakan Jarod dalam tiga komisi atau tiga fakultas. Pertama, fakultas Agama, terletak di bagian paling belakang dekat Shopping Center. Di sini berkumpul para pemuka agama atau orang-orang yang biasa mendiskusikan isu-isu bersifat keagaaman.

Kedua, fakultas Ilmu Sosial dan Politik, terletak di bagian tengah. Di sini adalah tempat berkumpulnya para akademisi, cendekiawan, budayawan, sampai mahasiswa mendiskusikan isu-isu sosial maupun politik, dari isu yang lokal sampai nasional.

Ketiga, fakultas Ekonomi, terletak di bagian paling depan Jarod. Fakultas ini adalah tempat para ekonom, pedagang, dan makelar membahas seputar harga rumah, tanah, sampai batu akik.

Iqbal juga melihat adanya semacam pengakuan publik yang berkembang pada komunitas Jarod. Di sana, ada orang-orang yang telah diakui perannya untuk menanggapi isu-isu tertentu. Misalnya, ketika berlangsung perdebatan beberapa kasus, maka ada tokoh-tokoh yang seolah telah diberikan otoritas untuk menanggapi topik tersebut. Orang-orang itu telah dipercaya komunitasnya untuk memberikan komentar.

Iqbal juga memprediksi Jarod sebagai sebuah ‘ladang’ pengetahuan masa depan, terutama pengetahuan sosial dan politik, karena siapapun bebas masuk dan berdiskusi. Maka ia menyebutnya sebagai suatu cara “berpengetahuan ala komunitas Jalan Roda”.

Pengetahuan itu kemudian tersebar karena peranan sejumlah wartawan yang memang sering menggali informasi pada komunitas-komunitas di sana. Penyebaran informasi itu, kata Iqbal, paling sering terjadi pada topik-topik pemilihan kepala daerah. Akhirnya, diskusi di Jarod secara tidak langsung berkontributsi membentuk opini publik.

Buku ‘Komunitas Jalan Roda’ adalah buku kedua yang ditulis M. Iqbal. Ia pun berkeinginan untuk menulis Jalan Roda dari perspektif lain sebagai pengembangan dari buku pertama. Keinginan itu didorong oleh masukan-masukan terkait teori dan pendekatan yang dapat digunakan untuk membedah struktur Komunitas Jalan Roda. Sebab, dalam acara bedah bukunya, hadir juga ekonom, ahli arsitektur, dan pedagang kopi yang mengemukakan pandangan pendangan mereka tentang masalah-masalah dan perubahan yang terjadi di jalan roda.

Sementara menurut budayawan Taufiq Pasiak, saat ini ada sekitar 17 rumah kopi baru di Manado, mulai dari rumah-rumah kopi tradisional yang sederhana hingga rumah-rumah kopi modern yang biasa dikunjungi masyarakat menengah ke atas.

Kepala Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM Universitas Sam Ratulangi ini menilai, menjamurnya rumah kopi di kota Manado didorong beberapa faktor. Pertama, senyawa pada kopi dapat mengusir rasa kantuk, membuat orang melek dan betah ngorbol lama-lama.

Kemudian, ngopi-ngopi dan nongkrong-nongkrong dipandang sudah jadi semacam gaya hidup. Para pengusaha melihat ini sebagai peluang yang menjanjikan. Mereka kemudian berlomba-lomba menciptakan suasana rumah kopi atau café yang nyaman, desain interior yang unik untuk selfie, serta dilengkapi fasilitas wifi gratis, dan harga yang harga kopi yang terjangkau.

Uniknya, Taufiq Pasiak melihat, para peracik kopi di rumah-rumah kopi yang tersebar di Manado merupakan orang-orang yang sama. Mereka merupakan para ‘alumnus’ Jarod. Sehingga, tak heran jika kita menemukan kopi-kopi dengan cita rasa yang sama dengan kopi khas Jarod.

Menurut catatan sejarah, Jarod sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Disebut Jalan Roda karena dahulu merupakan tempat masyarakat memarkir roda atau semacam gerobak yang ditarik kuda atau sapi. Mereka lalu akan mampir memesan kopi sembari bertukar cerita. (mustika muchtar/themmy doaly)

l

build_links(); ?>