Mengenang Sastrawan dan Wartawan Senior Gerson Poyk

Pernah mengunjungi Majalah Mahasiswa INOVASI UNSRAT

Indonesia kehilangan salah satu sastrawan dan wartawan senior terbaik. Namanya Gerson Poyk, lengkapnya Herson Gubertus Gerson Poyk. Sebagai sastrawan dan wartawan Indonesia kenamaan, namanya dikenal secara luas melalui karya-karyanya yang dimuat di berbagai media massa dan dijadikan rujukan dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Dilahirkan di Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, pada 16 Juni 1931, Oom Bea atau Pak Bea, demikian sang jurnalis senior ini dipanggil oleh koleganya, meninggal dunia pada umur 85 tahun di rumah sakit Hermina, Depok, Jawa Barat, pada 24 Februari 2017 lalu.

Mengawali debutnya sebagai penulis dan kemudian pewarta berita sejak tahun 1950, dia mengukir banyak prestasi dan menerima beberapa penghargaan, baik sebagai sastrawan maupun sebagai wartawan.

Meski pendidikan terakhirnya hanya sampai Sekolah Guru Atas (SGA) Kristen Surabaya tahun 1956, siapa sangka kelak namanya justru menjadi ‘buah bibir’ para guru di seluruh Indonesia karena karya-karya sastranya selalu dijadikan rujukan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebagai guru, dia pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate, Maluku Utara (1956) dan di Bima, Sumbawa, NTB (1958-1963).

Berhenti sebagai Guru di tahun 1963, almarhum memilih menjadi wartawan Sinar Harapan (1963-1969), sebuah surat kabar sore nasional yang pernah berjaya dan menjadi salah satu surat kabar terkemuka di Indonesia. Setelah tidak lagi menjadi wartawan tetap di Sinar Harapan, dia masih tetap menghasilkan liputan-liputan yang menarik, yang selain dimuat di Sinar Harapan, dimuat juga di sejumlah surat kabar nasional lainnya.

Selepas menjadi wartawan di Sinar Harapan, dia menjalani hidup sebagai penulis lepas (free lancer) dan penulis tetap (kolomnis) di berbagai media cetak di Indonesia. Antara tahun 1970-1971 menerima beasiswa untuk mengikuti program “International Writing” di Universitas Iowa, Iowa, Amerika Serikat, tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengikuti program tersebut. Kemudian pada tahun 1982 mengikuti seminar sastra di India.

Cukup banyak penghargaan yang pernah diterimanya, antara lain Anugerah Kebudayaan tahun 2011 dari Pemerintah Republik Indonesia yang diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan dua kali berturut-turut pada 1985 dan 1986 meraih “Adinegoro” penghargaan tertinggi bagi para wartawan Indonesia dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan menerima penghargaan sebagai sastrawan ASEAN, SEA Write Award 1989, hadiah Sastra dari Majalah Sastra (1961) dan Majalah Horizon (1968), serta hadiah Lifetime Achievement Award 2009 dari Harian Kompas atas jasa-jasanya sebagai sastrawan dan wartawan Indonesia.

Mengunjungi INOVASI UNSRAT

Jefrey Rawis, kini wartawan senior dan salah satu pionir majalah INOVASI Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) mengenang almarhum (Gerson Poyk) sebagai sosok wartawan kelas dunia yang pernah mengunjungi dan melatih kru redaksi INOVASI di jamannya.

Sebagai wartawan kelas dunia, menurut Rawis, karya novel, cerpen, puisi-puisi, dan beberapa karya almarhum yang telah dipublikasikan seperti “Sang Guru”, “Nyoman Sulastri”, “Doa Perkabungan”, “Requiem untuk Seorang Perempuan”, “Di Bawah Matahari Bali”, “Mutiara di Tengah Sawah”, dan “Surat-surat Cinta Alexander Rajaguguk”, serta beberapa karyanya yang lainnya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Belanda, Jepang dan Turki. Tak heran, banyak mahasiswa dalam dan luar negeri memperoleh gelar sarjana, magister dan doktor di bidang Sastra dengan skripsi, tesis dan disertasi mengenai karya-karya almarhum.

“Waktu awal-awal INOVASI (Majalah INOVASI –red), sekitar tahun 1985, Oom Gerson Poyk pernah mengunjungi INOVASI dan memberi materi pada “pelatihan dasar pers dan penulisan karya ilmiah populer. Itu pelatihan penulisan karya ilmiah popular yang pertama kali dilaksanakan di Unsrat dan INOVASI panitia pelaksananya. Kami memang secara khusus mengundang Oom Gerson Poyk untuk mengajari kami, beliau itu sangat hebat, waktu itu dia juga di majalah Mutiara, grup Sinar Harapan”, ujar Rawis mengenang.

“Oom Gerson Poyk itu pakar ‘features’ bersama para pendekar pers Indonesia seperti Aristides Katoppo dan Daud Sinyal, dua jagoan ‘straight dan embargo news’. Mereka ke INOVASI bersama perintis ‘press klaar’ Lukman Hakim (Karikaturis) dan Oom Don Hasman, fotografer kawakan”, kata Rawis.

Don Hasman, tahun 2007 juga mampir kembali di markas INOVASI, ‘nginap’ selama seminggu di sekretariat INOVASI di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Unsrat (lama) lantai 2, ketika menjadi narasumber dalam kegiatan “Pelatihan Jurnalistik Alam Bebas dan pendirian organisasi Manado Woman Adventurer” di FISIP Unsrat yang menghadirkan Aristides Katoppo, Herman Lantang (Pendiri Mapala UI), Theobaldus Tri Prasetyana (Wanadri), Suria Nataadmaja (Advokat dan penyelam) dan Nevi Tonggiroh (Pendiri Mapala Korpala Unhas Makassar dan penelusur goa).

Menurut Rawis, mereka (Gerson Poyk, Aristides Katoppo, Daud Sinyal, Lukman Hakim, Don Hasman, dll) jualah yang ‘memicu’ semangat para awak redaksi INOVASI di dekade awal 1980-an yang berhasil mengantar Majalah INOVASI, satu-satunya majalah kampus Indonesia yang masuk koleksi “Library of Congress“, perpustakaan kongres Amerika Serikat. “Kepergian almarhum adalah kehilangan bagi Indonesia, kita semua. Dia salah satu wartawan dan sastrawan besar yang pernah membagi ilmunya kepada kami saat di INOVASI”, tambahnya.

Selamat jalan Oom Gerson Poyk, terima kasih atas inspirasimu bagi kami generasi muda Indonesia, dan beristirahatlah dalam kedamaian abadi. (Inovasi)

build_links(); ?>