‘Perang itu bernama pangan’

inovasi.cc Usai Jokowi terpilih, jutaan pasang mata ( termasuk jomblo yang belum berpasangan) diajak untuk melihat ke laut yang lama kita punggungi. Jokowi mendedahkan sistem ekonomi Maritim yang membuat banyak orang di kedai kopi, cafe hingga angkringan kasak-kusuk membicarakannya. Jokowi tahu betul nampaknya potensi bangsa ini adalah sumber daya alam. Selain lahan yang subur beriklim tropis, Indonesia juga punya bentangan laut yang maha luas. Yang tentu saja sumber pangan luar biasa untuk rakyat Indonesia.

Salah satu ciri keberhasilan pemerintahan adalah memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, dan salah satu tolok ukur kebutuhan dasar adalah pangan. Masalah pangan ini akarnya panjang dan rumit seperti banjir, kemacetan dan gagal move on jomblo ditinggal mantan.

Surplus yang terjadi di beberapa komoditas hanya sedikit menghibur tapi tidak menyelesaikan masalah sebenarnya. Harga daging masih sangat mahal dan tetap tidak terjangkau. Beras juga demikian Memang salah satu cara adalah melakukan swasembada. Tapi perlu diingat, swasembada ini butuh waktu panjang sedangkan kebutuhan pokok berlangsung tiap hari.

Menutup keran impor secara langsung, ternyata tidak menyelesaikan masalah. Antara kebutuhan dan ketersediaan tidak seimbang, sehingga harga melonjak. Para samurai ini yang menguasai hulu sampai hilir pangan di Indonesia. Mereka bukan saja pengimpor tetapi juga produsen. Mereka memainkan harga, mengendalikan distribusi, sampai mampu menjatuhkan harga meski rugi ketika pemerintah melawan dengan membanjiri pasar untuk mengontrol harga.

Ini memang perang kuno pemerintah melawan mafia pangan. Selama ini kuota impor dikuasai oleh hanya beberapa orang saja. Si ‘tujuh samurai’ itu meski perusahaan impor yang terdaftar ada berapa puluh, tapi pada praktiknya itu-itu saja yang nongol. Jokowi butuh kerja keras, menterinya harus cerdas dan Dirjennya harus waras. Saat petani panen jagung jangan buka keran importan. Lindungi petani agar dapat harga bagus dan semangat menanam lagi.

Tapi melihat gurita ‘ tujuh samurai’ itu begitu kokoh dan mengakar, nampaknya hanya akan saling berganti kebijakan saja. Pemain impor hanya akan di isi mereka-mereka saja. Tidak ada perang yang mudah dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita tidak boleh lelah apalagi ‘kemayu’. Dan jangan lupa minum jamu agar bugar terus.

Petani sedang memeriksa hasil pertanian sebelum panen. (Foto: Donny Rumagit)

Industri Kita Melawan MEA
Apa yang tidak di punyai negeri ini? Maaf bisa apa negeri ini, lebih tepat itu pertanyaanya. Satu kaki kita sudah melangkah di pintu gerbang MEA. Produk ekspor kita sangat tergantung di produk pertanian, perikanan dan kerajinan. Tapi anehnya yang di genjot justru Industrinya.

Manufaktur di Indonesia sekedar merakit, hal ini tidak mungkin punya value tinggi. Itulah kenapa Apple merakit produksi di Taiwan dan China. Sekedar merakit itu nilai tambah rendah. Tapi mendesain produknya Apple tetap melakukan di Cuppertino.

Sebutkan semua merk, elektronik, otomotif, food and beverage, kita lihat bahwa yang dilakukan oleh buruh Indonesia adalah pekerjaan merakit, menjahit dan membungkus. Ini kenyataan, pahit bukan? Sepahit melihat Raisya bergandengan dengan kekasih barunya. To be honest walau pahit harus terima kenyataan ini.

Sialnya, pekerjaan merakit ini sekarang banyak pesaingnya. Vietnam kamboja Laos Myanmar akan menyusul Indonesia sebagai negara perakit. Upah mereka lebih rendah dengan iklim politik yang lebih stabil. Belum lagi Philipines buruhnya lebih terampil dan sejak kecil sudah pintar berbahasa Inggris.

Belum lagi persoalan buruh yang entahlah… you know it soo well. Tapi Ini era kapitalisme, bung. Era Free market liberalism. Buruh itu faktor produksi, pangan dan sumber daya alam juga. Bahkan kita semua adalah faktor produksi. Harga faktor produksi ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Kalo mau naikin harga jadikanlah dirimu bernilai tinggi, langka dan mampu mengerjakan pekerjaan bernilai tambah tinggi.

Ini menjadi pekerjaan rumah seluruh partai untuk berfikir bagaimana kita merespon perkembangan ekonomi global saat di mana seluruh perjanjian perdagangan kita tanda tangan setuju. Tanpa sadar dengan persetujuan tersebut kita membuka lebar pintu warung kita dan membiarkan siapapun bebas masuk memajang daganganya di sana. Sedangkan barang dagangan kita sendiri belum sempat kita percantik.

Belajar dari China yang sudah naik kelas dari bangsa perakit jadi bangsa produsen. Beberapa brand China sudah kuat di sektornya seperta ‘huawei’ dan ‘zte’ yang penjualannya menggusur Ericson dan Nokia. Kita harus segera ambil posisi sebagai bangsa yang kuat di produk kelautan, tekstil, pangan dan peternakan. Kita sudah unggul di sektor jasa dan pariwisata.

Penulis: Teguh ‘Awan’ Kurniawan (Alumni lembaga pers mahasiswa Ponorogo)

build_links(); ?>