Perempuan kulit hitam pengubah wajah NASA

Poster film 'Hidden Figures'

Pada tahun 1960-an, Amerika Serikat masih terbelenggu persoalan diskriminasi. Warga kulit hitam dianggap liyan, dianggap orang lain, khususnya dalam mengakses fasilitas publik dan pekerjaan. Terlebih perempuan kulit hitam.

film Hidden Figures

inovasi.cc | Inilah alasan pembuatan film Hidden Figures. Film hasil adaptasi buku berjudul serupa karya Margot Lee Shetterly yang berangkat dari kisah nyata. Menarasikan sekelompok jagoan matematika perempuan keturunan Afrika. Mereka adalah Katherine G Johnson (Taraji P Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monae). Ketiganya memiliki peran penting dalam sejarah perjalanan The National Aeronautics and Space Administration (NASA), dalam proyek pertama mengirimkan manusia ke luar angkasa.

Pada era itu, AS dan Rusia (dulu Uni Soviet) berlomba menerbangkan pesawat ke luar angkasa. Rusia rupanya lebih tangkas, lebih dulu menerbangkan kosmonot Yuri Gagarin ke luar angkasa menggunakan pesawat roket Vostok 1 pada 12 April 1961.

Kabar keberhasilan Rusia itu membuat AS gerah. Presiden John F Kennedy, yang baru tiga bulan dilantik, langsung memerintahkan proyek NACA (sekarang NASA) mempercepat proyek menerbangkan manusia ke luar angkasa.

Sayangnya, di era itu demokrasi AS sedang berproses. AS masih sibuk menerapkan aturan diskriminatif, untuk membedakan warga kulit putih dan kulit berwarna. Warga kulit berwarna atau colored, seperti warga keturunan Afrika, China dan Indian, tak berhak menikmati fasilitas warga kulit putih. Meski pemerintah menyediakan fasilitas publik khusus warga kulit hitam, namun prakteknya di lapangan terjadi diskriminasi.

Lebih dari seabad warga kulit putih memiliki tempat istimewa, menjadi ‘raja’ di AS. Mereka mendapat kedudukan strategis di bidang politik, ekonomi, pendidikan hingga pekerjaan. Beruntung, Presiden AS ke-34, Dwight David Eisenhower, di akhir jabatannya mengeluarkan kebijakan kesetaraan derajat manusia, di antaranya memperbolehkan warga kulit hitam bekerja di NASA.

Pun demikian dengan atmosfir kerja NASA di era Presiden John F Kennedy, masih memegang tradisi ‘kuno’ dengan membedakan penggunaan toilet, kantin kantor, hingga jenis pekerjaan. Di divisi enjinering misalnya, karyawan yang bekerja harus lelaki kulit putih. Jadi, bisa dibayangkan sulitnya seorang karyawati kulit hitam bekerja di divisi teknik, yang diwajibkan mengenakan busana rok dan sepatu high heels.

Film ini digarap Theodore Melfi dan Allison Schroeder, melalui rumah produksi 20th Century Fox. Penonton disuguhkan sejuta konflik dan upaya mengubah sejarah kelam diskriminatif AS. Meski disajikan dramatik, namun tetap menghibur.

Katherine G Johnson, Dorothy Vaughan dan Mary Jackson.

Charlie’s Angels Tempo Doeloe
Katherine G Johnson, Dorothy Vaughan dan Mary Jackson, yang menjadi tokoh sentral di film ini, merupakan manusia jenius di zamannya. Betapa tidak, mereka dan 30-an perempuan lainnya, merupakan perempuan kulit hitam yang terpilih masuk NASA melalui seleksi ketat.

Katherine anak petani dan guru yang berhasil masuk perguruan tinggi di usia 14 tahun. Ia aktif mengajar di Virginia Barat State University dan menjanda saat masuk ke NASA. Kejeniusannya menghitung angka peluncuran dan pendaratan pesawat di Bumi, membuatnya menjadi orang yang sangat diperhitungkan, termasuk oleh astronot pertama yang mengangkasa, John Glenn. Ia menjadi perempuan pertama yang bekerja di tim inti NASA, bahkan jadi perempuan pertama yang diberi akses masuk ke ruang kendali peluncuran.

Dorothy Johnson Vaughan, pemimpin kelompok perempuan di blok West Area Computers, yang semuanya beranggotakan perempuan kulit hitam. Meski mereka sudah menggunakan istilah komputer, namun tak ada perangkat komputer sama sekali di divisi ini. Tugas utama mereka adalah berhitung, berhitung dan berhitung. Sebelum meluncurkan John Glenn, divisi ini menghitung proses peluncuran dan pendaratan secara manual.

Dorothy terkenal di NASA karena keisengannya memasuki sebuah ruang yang berisi perangkat mesin komputer generasi kedua ciptaan perusahaan komputer IBM. Perusahaan yang menggunakan transistor sebagai prosesor ini nyaris dipermalukan, karena tak mampu mengoperasikan komputer berbasis data. Berkat Dorothy, tercipta bahasa pemrograman komputer IBM 7090, yang menjadi penentu data peluncuran roket ke luar angkasa.

Mary Winston Jackson, perempuan jenius yang hobi mengerjakan inti mesin pesawat ulang-alik. Di NASA Langley Research Center, ia bersama timnya, yang semuanya laki-laki, berhasil mengembangkan badan pesawat yang mampu menembus atmosfer.

Karir Mary nyaris kandas, karena berdasarkan peraturan NASA, semua karyawan harus lulus jurusan engineer perguruan tinggi. Ia harus menempuh jalur hukum, agar pengadilan memperbolehkannya berkuliah di kampus yang hanya menerima mahasiswa pria. Di masa keemasannya, Mery menelurkan sejumlah karya tulisan dan jurnal engineer, yang kini menjadi bahan studi mahasiswa teknik sipil.

Foto: Astronot NASA di luar angkasa

Mengubah Sejarah
Kisah Katherine, Dhorothy dan Mary, bukan saja menjadi pendobrak diskriminasi perempuan, tapi juga mengubah sejarah peradaban manusia. Melalui mereka, sudah banyak penemuan-penemuan dan teknologi baru. Mereka menjadi bagian perkembangan ilmu pengetahuan, yang kini secara tak sadar kita nikmati.

Apa jadinya, jika Dorothy tak jahil mengoperasikan komputer IBM 7090 sementara tak ada satupun karyawan IBM dan NASA mampu menggunakannya? Entahlah. Bisa jadi penemuan komputer dan smartphone era kini, baru bisa tercipta ratusan tahun kemudian.

Meski jenius di bidang matematika, tetap saja mereka dihadapkan persoalan sosial-politik dalam negeri. Hebatnya, meski dihadapkan persoalan diskriminasi ras dan gender di lingkungan kantor dan tempat tinggal masing-masing, mereka adalah sosok pribadi yang merdeka.

”Para perempuan hanya bisa bergantung pada tugas yang sudah ditetapkan. Setiap karyawati di NASA tak diizinkan menampilkan nama pada dalam lembaran laporan tugasnya, meski laporan itu hasil karyanya sendiri,” kata Katherine, mengenang masa sulitnya pertama kali bekerja di NASA.

Harus diakui, sejarah kelam peradaban dunia menarik diangkat ke permukaan. Banyak orang belum tahu persis, bahwa sejarah demokrasi AS pernah menerapkan diskriminasi rasial, seperti dalam film Hidden Figures ini. Film yang masuk 3 nominasi Piala Oscar 2017 ini layak ditonton, terutama penggandrung sejarah.

Kisah ketiga perempuan ini sangat inspiratif. Di era kekinian, meski demikian banyak pemikiran maju dan berkembang, tak kalah banyak pula pihak yang masih memelihara tradisi dan peraturan diskriminatif, khususnya bagi perempuan. Meski banyak rintangan menghadang, tapi jika dilakukan tulus dan tanpa kekerasan, percayalah, perubahan akan hadir. Kitalah penentu perubahan itu.

Penulis: Jhonny Sitorus, alumni Lembaga Pers Mahasiswa Inovasi Universitas Sam Ratulangi, Manado.

build_links(); ?>