Hoax dan parade humor yang menyebalkan

inovasi.cc | Masa ini adalah masa di mana teknologi informasi berkembang pesat, akses media pun semakin mudah didapat. Masa di mana gosip dan kabar burung menemukan lahan luas dan suburnya untuk mekar dan berkembang, menjerumuskan manusia-manusia kepada cerita-cerita sesat.

Adalah ‘hoax’, barisan kata yang berisi tipuan. Bukan tanpa tujuan, ia memang sengaja dibuat oleh juru olah yang memang bermaksud menyesatkan. Atau juru olahnya juga manusia yang memang sudah sesat. Hoax merupakan kabar yang sengaja dibuat dengan tujuan menipu atau membohongi. Di dalamnya terdapat unsur kesengajaan si pembuat untuk membohogi si penerima kabar. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan awal mulanya ‘hoax’ muncul dan menjadi sesuatu yang populer di Indonesia. Motivasi pembuat hoax ternyata tak melulu untuk menyesatkan atau propaganda kebencian, beberapa diantaranya hanya untuk lucu-lucuan.

Salah satu bentuk hoax ‘lucu lucuan’ contohnya pernah dilakukan oleh salah satu surat kabar terkenal Indonesia zaman Orde baru. Adalah Koran ‘Indonesia Raya’, korannya Muchtar Lubis ini pernah membuat kehebohan dengan sengaja mempublikasikan berita hoax pada halaman pertamanya. Tepat 31 Maret 1971, Koran Indonesia Raya merilis berita heboh tentang akan diadakannya pertemuan antara Mentri Luar Negeri Adam Malik dengan utusan ketua Partai Komunis RRC.

Berita dengan judul “Adam Malik Besok Ketemu Utusan Khusus Ketua Mao Tse-tung” tersebut cukup membuat gempar. Pasalnya, hubungan Indonesia dengan partai komunis RRC kala itu sedang buruk pasca tuduhan pemerintah orba tentang keterlibatan RRC dalam G30/S. Salah satu yang dibuat kalang kabut adalah Adam Malik sendiri, kerena harus menjawab banyak pertanyaan tentang kebenaran kabar tersebut. Namun Hoax tersebut akhirnya dikonfirmasi oleh harian Indonesia Raya sendiri, dengan membuat publikasi bahwa berita tersebut hanya April Mop.

Bahkan sebelumnya, Indonesia Raya juga pernah melakukan hal serupa. 31 maret 1969. Di tanggal yang sama namun tahun berbeda, berita hoax juga muncul dengan headline “Isteri Sukarno ke-3 Sari Dewi Kembali ke Indonesia.” Selain judulnya, sub judulnya pun dibuat menggemaskan, “Tobat Atas Dosa2-nja–Akan Kembalikan Semua Harta Tjurian Untuk Dana Pendidikan”. Mammamia…

BACA: Jokowi bantah kebanjiran tenaga kerja Tiongkok

Berita hoax Koran Indonesia Raya yang tak kalah hebohnya juga muncul pada april 1973. Berita tersebut tentang ditemukannya bunga anggrek raksasa di kediaman seorang warga di Jalan Bonang. Disebutkan bahwa ukuran anggrek raksasa lebih besar dari bunga Rafflesia Arnoldi.

Walhasil publik beramai-ramai melihat kerena didorong rasa penasaran. Jalan Bonang yang terletak di belakang Monumen Proklamasi adalah tempat tinggal Mochtar Lubis, sang pemilik Koran. Namun yang ditemukan bukanlah anggrek raksasa, namun anggrek biasa, karena memang Muchtar Lubis memiliki kebun bunga yang ditanami bunga anggrek. Sang pemilik hanya tergelak senang melihat banyak orang mondar-mandir karena penasaran di sekitar rumahnya. Menyebalkan, bukan?

Ternyata selain menyesatkan, hoax juga ternyata bisa menjadi hiburan. Menjadi oase ditengah keseriusan kabar kabar yang membosankan. Tapi tentunya kelucuan tidak akan lucu lagi jika memunculkan tanggapan yang berlebihan. Seperti beberapa kasus yang menjadi viral akhir-akhir ini.

BACA JUGA: Markobar dituduh kandung babi, begini respon Gibran

Sebuah Koran lokal di manado merilis berita heboh tentang praktik jual-beli organ. Berita dengan Headline “Satu Anak 5 Miliar” tersebut kemudian menjadi viral berkat tersebarnya capture-an fotonya oleh pengguna media. Di Koran tersebut tertera statistik harga penjualan organ tubuh dan anak di pasar gelap. Berita yang kemudian viral tersebut ternyata membuat resah.

Keresahan ternyata tidak hanya menimpa warga Manado, bahkan sampai kepada warga di Jakarta. Hal tersebut membuat kapolri angkat bicara. Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menegaskan bahwa isu yang beredar soal penculikan dan penjualan organ tubuh anak di Manado, tidak benar. Kapolri meminta agar masyarakat tidak mudah termakan isu yang belum pasti kebenarannya.

Saya juga awalnya melihat capture-an foto judul beserta grafiknya di grup setelah di-share oleh seorang teman. Dengan hanya membaca judul dan grafik yang tertera saya langsung ketar-ketir antara takut dan jijik membayangkan saya berpotensi diculik karena tiap bagian tubuh saya mahal harganya. Keresahan pembaca menjadi semakin berlebihan dengan banyaknya gelandangan dan orang gila yang dituduh penculik anak atau penjual organ.

BACA JUGA: Cegah hoax, Badan Siber Nasional dibentuk

Padahal, kalau kita jeli, kita bisa tidak langsung percaya, menarik kesimpulan, apalagi turut menyebarkan.

Dari sini kita bisa bersama-sama belajar, bahwa media arus utama sekalipun tidak tertutup kemungkinan sedang menyebarkan berita yang tidak jelas asal=usul kebenarannya. Meski demikian, sulit untuk mengerem berita Hoax tumbuh pesat. Dan banyak pula pembaca yang kemudian langsung percaya begitu saja. Saya kemudian menimbang=nimbang kenapa bisa demikian. Mungkin tradisi literasi kita kurang. Mungkin kita terlalu malas berfikir kritis, bahkan untuk sekedar mengecek kembali kebenaran berita yang berkembang.

Untuk mencegahnya kita bisa memulai dengan budayakan membaca tidak hanya dari satu sumber, karena propaganda berita hoax, apapun motifnya, entahpun lucu=lucuan bisa menjadi hal yang menyebalkan. Karena dibohongi itu menyebalkan kawan. (ilona/inovasi)

build_links(); ?>