Di Malaysia, Zakir Naik jadi ancaman nasional

inovasi.cc | Pengadilan Tinggi Malaysia menjadwalkan 12 April 2017 sebagai awal proses hukum terhadap pendakwah kenamaan asal India, Zakir Naik atas yang diadukan sebagai ancaman keamanan nasional.

Tuntutan hukum ini dilakukan oleh 19 aktivis Malaysia, yang melayangkan gugatan kepada pemerintah dan pihak-pihak lainnya.

Mereka menyatakan Zakir Naik menjadi ancaman bagi ketertiban publik, moral, ekonomi, sosial, pendidikan, persatuan nasional dan perdamaian.

BACA: Markobar dituduh kandung babi, begini respon anak Jokowi

Adapun pihak-pihak yang digugat, adalah Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri, Ahmad Zahid Hamidi, Direktur Jenderal Departemen Imigrasi, Direktur Jenderal Departemen Registrasi Nasional, Inspektur Jenderal Polisi dan Pemerintah Malaysia.

Di antara para penggugat adalah Ketua Hindraf, yang juga mantan wakil menteri di Departemen Perdana Menteri Malaysia, P. Waytha Moorthy, aktivis Dr Lim Teck Ghee, Sabah STAR (Partai Solidariti Tanah Airku) Presiden Datuk Dr Jeffrey Kitingan dan pengacara Siti Zabedah Kassim.

Penggugat mendorong perintah pengadilan untuk segera mencabut status Dr Zakir Naik sebagai penduduk tetap jika itu telah diberikan kepadanya.

Dalam gugatan, penggugat juga meminta pengadilan untuk segera mendeportasi dr Zakir Naik dan memulai kebijakan pembatasan untuk mencegah dia memasuki Malaysia.

Mereka juga ingin perintah pengadilan mengarahkan Inspektur Jenderal polisi untuk segera menangkap dr Zakir Naik.

Penceramah kontroversial asal India yang dilarang di sejumlah negara ini, tengah berada di Indonesia untuk memberikan ceramah di sejumlah kota dengan pertanyaan dari yang hadir antara lain soal pemimpin non-Muslim.

Zakir Naik, yang mengasingkan diri di Timur Tengah, setelah dituduh “mempengaruhi” penyerang Dhaka, Bangladesh, tahun lalu, mengadakan tur untuk berceramah di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Bandung, Yogyakarta, Ponorogo, Bekasi dan Makassar.

Seperti dikutip dari BBC, dalam ceramahnya di hadapan banyak mahasiswa di Yogyakarta, Senin (3/4/2017), Zakir Naik antara lain ditanya soal pemimpin non-Muslim dari peserta dengan jawaban, “harus memilih pemimpin Muslim”.

BACA JUGA: Hoax dan parade humor yang menyebalkan

“Dan bila berada di negara dengan mayoritas non-Muslim, beliau mengatakan pilih yang akhlaknya mendekati,” kata Budhi Setiawan, yang mengatur perjalanan Naik di Indonesia.

Dari ribuan peserta yang hadir di dua kota itu, 200 di antaranya non-Muslim yang ingin mengetahui lebih lanjut terkait tema besar yang ia sampaikan “salah persepsi tentang Islam,” kata Budhi, dengan sejumlah di antaranya mengucapkan kalimat syahadat, untuk masuk Islam. (inovasi/The Star/BBC)

build_links(); ?>