Tikus, Kuliner Ekstrim dari Minahasa

Ekspresi Presiden Jokowi ketika dipamerkan tikus di Pasar Tomohon, Sulawesi Utara, beberapa waktu lalu.

Bagi sebagian orang yang belum pernah berkunjung ke Tanah Minahasa, akan terkaget-kaget melihat daging tikus terhidang di meja makan.
Pokoknya, ini bikin ‘kepo’ dan ‘baper’.

Tikus utan Minahasa, memiliki ciri ekor berwarna putih

inovasi.cc | Tikus biasanya dikenal sebagai hewan pengerat yang bagi beberapa orang lucu, dan bagi yang lain menjijikan. Lain halnya dengan masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara.

Masyarakat Minahasa sendiri terkenal sebagai pengkonsumsi kuliner ekstrim. Beberapa hewan aneh dan bukan santapan bagi penduduk Indonesia pada umumnya, justru menjadi hidangan istimewa di Minahasa.

Minahasa merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki sajian khas. Jika di Gunung Kidul ada belalang goreng, lawer di Bali, ulat bulu khas Purworejo, atau ulat sagu khas Papua, maka di Minahasa terdapat aneka kuliner seru dan ekstrem.

‘Semua’ boleh disantap
Sejumlah hewan non-halal khas Minahasa di antaranya ular, paniki (kelelawar), biawak, buaya, babi rusa, yaki (monyet endemik Sulawesi Utara), anjing, kucing (tusa) dan tikus.

Tikus? Ya, hewan pengerat lucu nan menggemaskan ini juga bisa berubah menjadi santapan nikmat nan lezat bagi sebagian warga Minahasa. Orang Minahasa pada umumnya menyebutnya Kawok.

“Semua yang terbang di udara boleh dimakan, kecuali pesawat terbang. Semua yang merayap di darat boleh disantap, kecuali kereta. Dan semua yang hidup di laut boleh ditelan, kecuali kapal selam,” ujar Jhonny, alumnus Unsrat penggemar kuliner Minahasa sambil tertawa.

Tikus hutan banyak dijual di pasar-pasar tradisional Minahasa, Sulawesi Utara.

Eits, jangan salah dulu, ini bukan tikus sembarangan yang dikonsumsi. Tikus ini bukanlah berasal dari selokan atau gudang di rumah. Ini adalah tikus hutan, yang memang habitatnya di hutan. Sudah tentu, tikus hutan yang ditangkap dengan perangkap khusus terbuat dari bambu, memiliki ciri yang berbeda dari tikus rumah. Perbedaan yang mencolok terlihat pada ekornya yang berwarna putih. Selain itu, kawok hanya mengkonsumsi biji-bijian dan buah-buahan hutan.

BACA: Amurang, ‘Surga’ kuliner Sulut

Tekstur daging tikus sangat berbeda dengan daging ayam, babi, atau sapi. Tekstur dagingnya ada, karena hewan ini murni herbivora. Jika tak pintar mengolahnya menjadi hidangan, maka rasa dagingnya jadi terasa kurang enak. Nah, Untuk mengakalinya masyarakat Minahasa memasaknya dengan aneka bumbu agar rasa sajian daging tikus jadi lebih nikmat.

Bumbu-bumbu yang diperlukan untuk olahan daging tikus adalah bawang merah, bawang putih, cabe, sereh, jahe, kunyit, kemiri, kemangi, daun jeruk, daun pala, daun bawang dan daun pandan secukupnya.

Dalam pengolahannya langkah awal yang seharusnya dilakukan adalah membakar dagin tikus terlebih dahulu. Untuk mendapatkan rasa yang nikmat dan pas, bumbu yang disiapkan harus sesuai dengan banyaknya daging yang akan diolah.

Pada musim tertentu, cenderung sulit untuk menemukan menu tikus yang dihidangkan di rumah-rumah makan khas tradisional di Sulawesi Utara. Sajian olahan daging tikus umumnya banyak ditemui di hari-hari besar masyarakat Minahasa seperti hari pengucapan syukur, Paskah, Natal atau Tahun Baru.

Biasanya, daging tikus merupakan salah satu yang paling dicari dibanding sajian daging lainnya. Tekstur daging yang lebih sedikit namun diimbangi dengan aneka bumbu cita-rasa tinggi, maka ini jadi menu sajian daging tikus yang nikmat. Jika Anda ingin mencoba, datanglah ke Sulawesi Utara pada perayaan hari besar masyarakat Minahasa.

SIMAK JUGA: Markobar dituduh kandung babi, begini respon putra Jokowi

Namun jika Anda datang pada hari biasa, Anda bisa mengunjungi beberapa daerah di Sulawesi utara, biasanya di daerah tertentu ada masyarakatnya yang berprofesi sebagai pemburu tikus seperti di Motoling, Langowan, Tompaso dan beberapa daerah lainnya.

Anda bisa sekaligus meminta masyarakat setempat untuk mengolahnya untuk Anda, kerena biasanya sebagian besar masyarakat desa Minahasa tahu cara mengolah daging tikus. Anda biasanya dimintai biaya sekitar Rp. 50.000 per-ekor untuk tikus yang belum di olah, atau Rp.50.000 untuk sepiring kecil tikus yang sudah diolah. Ayo, nikmatilah sajian lezat tikus dengan olahan bumbu khas Minahasa.

Mungkin belum lengkap berlibur ke Sulut, jika tak mampir mengunyah daging tikus. Tertarik untuk mencoba?

Penulis: Ilona Estherina Christina Piri (LPM Inovasi Unsrat)

Sepiring tikus terhidang di meja makan
build_links(); ?>