Kabar Hoax jadi viral, Akademisi Unsrat minta aparat serius

Hacker

inovasi.cc | Kabar penculikan anak dan penjualan organ tubuh yang ramai di media sosial (medsos), disinyalir hanya merupakan isu tanpa fakta atau hoax. Sejumlah kalangan menilai, ada aktor intelektual yang membuat kabar itu menjadi viral, dengan tujuan menggerus kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Pengamat hukum pidana Telly Antow mengatakan, berita hoax yang beredar akhir-akhir ini sangat meresahkan.

Baca: Cegah hoax, Badan Siber Nasional dibentuk

“Karena kebanyakan berita hoax yang muncul di medsos tidak jelas sumbernya atau dipelintir,” kata dia.

Untuk itu, ia meminta masyarakat harus lebih pandai dalam menilai akurasi berita dan memahaminya secara utuh, jangan sepotong-sepotong. Ia juga menyarankan kepolisian untuk terus meningkatkan pengawasan terhadap penyebar berita bohong. [Baca: Markobar dituduh kandung babi, begini respon Gibran]

“Polisi harus menindak tegas para penyebar berita bohong di medsos. Mereka bisa di jerat pasal 28 ayat 1 UU ITE,” kata dosen Fakultas Hukum Unsrat itu. Lanjut Antow, untuk penindakan, kepolisian perlu meningkatkan perekrutan para ahli–ahli ITE, yang didukung oleh peralatan teknologi.

Simak juga: Hoax dan parade humor yang menyebalkan

Sementara itu, akademisi Dr Max Rembang mengatakan teknologi apapun selalu bersifat ambivalen.

“Bisa positif dan juga negatif. Tergantung niat penggunanya,” kata dosen Unsrat ini. Menurut Rembang, pengguna medsos harus lebih pintar dalam menggunakan kemajuan teknologi.

“Cara mengatasinya hanya penegakan hukum karena masalah penyebaran berita tidak benar diatur dalam UU ITE,” kata dia. (inovasi)

build_links(); ?>