Tentang Kami

logo-inovasi3Sejarah Inovasi

Pertengahan tahun 1984, sekelompok mahasiswa Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) rutin mengunjungi perpustakaan milik Depdikbud Sulawesi Utara, Manado. Mahasiswa yang berasal dari bebagai disiplin ilmu ini, tampak tekun membaca buku.

Sebenarnya, mereka tak saling kenal satu sama lain. Tapi karena bertemu dan bertegur-sapa, mereka terdorong membentuk kelompok studi mahasiswa, bernama Mesikolah, yang artinya kira-kira: Ayo Sekolah!

Para mahasiswa ini–Peter Tappi, Harry Marentek, Ronny Inkiriwang, Kardin Tiah, dan Selvy Sambuaga–adalah pelopor berdirinya Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Inovasi Unsrat.

Tak sampai setahun, ada saja kegiatan mereka. Mulai dari menjalin komunikasi dengan Kelompok Netral Diskusi Muda (Kondida) di Jakarta, menjadi mediator Bakom Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pusat dan daerah, hingga menggarap program edukasi the right man on the right place.

Rupanya mereka belum berpuas diri. Setelah menggeluti aktifitas diskusi, kini mereka coba menggagas sebuah penerbitan kampus. Namanya, seperti yang sudah disepakati, adalah Inovasi.

 

Edisi Perdana Inovasi

27 Februari 1985, edisi perdana majalah Inovasi, terbit sudah. Tanggal itu sekaligus diperingati sebagai hari lahir organisasi ini. Drs Ishak Pulukadang, yang kala itu Deputi Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan, kemudian menjadi pemimpin redaksinya.

Awalnya, edisi perdana majalah ini berisi informasi kegiatan yang sudah dan akan diselenggarakan lingkungan universitas. Jika dibandingkan dengan masa kini, mungkin mirip kerja kehumasan di kampus atau perusahaan. Maka, tak heran, tulisan dan artikel di majalah Inovasi berisi berita seputar kunjungan menteri ke kampus, kegiatan kuliah kerja nyata (KKN), serta seminar-seminar di berbagai fakultas.

Warga kampus melihat kehadiran Inovasi bagaikan memenuhi dahaga. Selama ini, belum ada media yang menyajikan hasil publikasi kegiatan di kampus. Mahasiswa dan kalangan akademisi tampak antusias menyambut kehadiran Inovasi. Pihak Rektorat memberikan subsidi dana penerbitan setiap rutin bulan, demi penerbitan terbaru majalah Inovasi. Bahkan, sejumlah perusahaan berani membayar mahal untuk memasang iklan komersial, termasuk iklan-iklan rokok.

Kru Majalah Inovasi Universitas Sam Ratulangi menggelar internal gathering at Batu Putih Tangkoko, pada 1987.
Kru Majalah Inovasi Universitas Sam Ratulangi menggelar internal gathering at Batu Putih Tangkoko, pada 1987.

Edisi kedua edisi Maret 1985, ada sebuah catatan redaksi yang nakal nan-menggelitik. Inovasi menuliskan rangkaian kalimat sebuah manifesto politik, yang saat itu masih tabu dipublikasikan.

”Sebuah lakon kini telah dimulai, yang nanti akan menjadi sebuah sejarah. Sejarah pers mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Tak dapat dikatakan baru, memang. Tapi kini, tengah berlangsung sutradara dalam dunia pers mahasiswa Unsrat.”

Padahal, dalam struktur organisasi kemahasiswaan, Inovasi berada di bawah Badan Koordinasi Kemahasiswaan-Unit Kegiatan Pers. Di masa pemerintahan Soeharto, seluruh organisasi kemahasiswaan wajib berada langsung dalam ‘asuhan’ pimpinan universitas. Siapa yang melanggar, maka siap-siaplah dikenai sanksi.

Belum genap setahun lamanya, masa depan Inovasi mulai terancam. Menjelang tutup tahun 1985, pemerintah memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Lewat kebijakan tersebut, pemerintah nampak berhasil meredam keterlibatan politik mahasiswa. Secara tersirat, rezim Orede Baru memaksa waga kampus mengurusi studi dan menjauhkan diri dari politik praktis.

Dalam kurun waktu 1985 hingga akhir 1990-an, Inovasi bak mulai mati suri. Tak bisa berbuat banyak selain mengikuti kebijakan tersebut. Akibatnya, pemberitaan yang disajikan cenderung datar dan miskin eksperimentasi, baik ide maupun gaya tulisan.

Namun, memasuki 1990, para aktivis di Inovasi mulai berbenah. Struktur organisasi dirombak. Boks redaksi seluruhnya mulai diisi mahasiswa. Para alumni, dosen dan pejabat rektorat dihapus dari struktur. Majalah ini, kemudian, mendeklarasikan dirinya sebagai pers mahasiswa.

Hal yang terlihat dari perubahan status tersebut adalah penyajian topik liputan setiap edisinya. Isunya mulai beragam. Misalnya, “Masalah Lingkungan di Sulawesi Utara”, “Hari Ibu dalam Sisi Emansipasi”, “SDSB tidak bersalah”, “Tata Niaga Cengkih dalam Gugatan” hingga “Teluk Manado Milik Siapa?”

 

Inovasi di Era Reformasi

Memasuki tahun 1997, badai krisis moneter melanda. Aksi-aksi unjukrasa mulai merebak ke penjuru kampus, termasuk di Unsrat. Menjelang Mei 1998, tim redaksi Inovasi menggagas kerja sama talk show di Radio ROM2 FM Manado, setiap Selasa hingga Kamis sore berdurasi satu jam. Saat itu, program talk show ‘Forum Mahasiswa’ membutuhkan penghubung ke kalangan aktivis mahasiswa.

Reformasi'98
Reformasi’98

Acara ini mempopulerkan nama Inovasi yang sempat tenggelam. Sejak 1990-an, Inovasi hanya mampu menerbitkan satu edisi per tahun. Itu pun terbit, setelah rektorat menarik iuran dana kemahasiswaan ke mahasiswa baru. Otomatis, Inovasi hanya dikenal oleh mahasiswa baru, yang menerima majalah Inovasi secara gratis saat pelaksanaan Ospek.

Selama bermitra dengan ROM2 FM, tim redaksi Inovasi sukses memilih topik bahasan yang menarik dan ear chaching (enak didengar). Sementara, para mahasiswa—yang kala itu belum sadar menjadi cikal-bakal orator reformasi’98—kian antusias setiap menerima undangan talk show. Acara ini, yang awalnya sepi dari interaksi telepon pendengar, tiba-tiba harus antre untuk ikut bergabung menanggapi isu yang sedang dibahas. Bahkan, intel aparat ABRI yang sosoknya menakutkan, sempat turut memberi nada ancaman agar tak membahas urusan Pak Harto dan Orde Baru.

Inovasi kian bersemangat. Popularitas kru di balik layar maupun liputan di lapangan, membuat LPM ini diperhitungkan pentolan-pentolan demonstran. Mereka kerap menanti kehadiran kru Inovasi, untuk menjadi saksi mata setiap kali berunjuk-rasa di halaman Gedung PKM Unsrat atau di luar kampus. Dan puncaknya, pada terbitan edisi “Jari-Jari” (1997), Inovasi menunjukkan jati diri sebagai lembaga pers independen yang berani menyuarakan kampanye Golput.

Sejarah Unsrat turut mencatat, sebelum kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998, sekretariat Inovasi menjadi tempat rapat para aktivis se-Sulut, untuk mempersiapkan demonstrasi besar-besaran di kota Manado.

 

Pasca-Reformasi

Pasca-reformasi hingga awal 2000-an, analisis redaksi Inovasi kian tajam dan kritis. Edisi “Ada Rezim Datang, Rezim Pergi”, bercerita pergantian kekuasaan dari Soeharto pada Habibie. Inovasi juga turut menjadi leader atas isu otonomi daerah.

Sayangnya, di dekade ini, Inovasi mengalami pencabutan subsidi dari rektorat. Beda dengan LPM di sebagian besar kampus Pulau Jawa, Inovasi harus gigit jari setiap naskah akan masuk ke percetakan. Terpaksa, tim redaksi mengencangkan ikat pinggang, alias urunan dana seikhlasnya. Beruntung, masih ada alumni Inovasi yang turut membantu biaya cetak di PT Percetakan Negara cabang Manado.

Meski sejak era Reformasi’98 memiliki ruang lebih banyak kebebasan berekspresi, namun masalah pendanaan untuk percetakan jadi masalah yang terus menghantui. Untuk menyiasatinya, maka setiap penerbitan tidak melulu dalam format majalah. Ada dalam bentuk edisi terbatas dengan mencetak terbatas guna mengirit biaya, ada juga juga edisi fotocopy. Intinya, ini dilakukan sebagai bagian aksi protes ke rektorat, bahwa Inovasi tetap eksis, tak lekam dimakan zaman. (*)